Madeleine Albright dikenal sebagai Sekretaris Negara Amerika Serikat wanita yang pertama. Dalam wawancaranya dengan Teen Vogue (11/04), Madeleine Albright, 80 tahun, mengenang sebuah pertemuan dengan pengungsi dari Etiopia di acara penganugerahan Presidential Medal of Freedom pada tahun 2012. Medali tersebut merupakan anugerah tertinggi yang dianugerahkan kepada warga sipil Amerika Serikat atas kontribusinya kepada negara. Presiden Amerika Serikat pada saat itu, Barack Obama, menyerahkannya secara langsung kepada Madeleine.

Dalam acara seremoninya, seorang pengungsi Etiopia menyalami Madeleine sambil berkata, “Hanya di Amerika Serikat seorang pengungsi dapat menyalami Sekretaris Negara.” Sambil tersenyum, Madeleine menjawab, “Hanya di Amerika Serikat seorang pengungsi dapat menjadi Sekretaris Negara.” Ya, tidak banyak yang tahu bahwa Madeleine adalah seorang pengungsi dari Cekoslovakia di masa Perang Dunia II. Selepas menjabat Sekretaris Negara pada tahun 2001, Madeleine aktif di firma konsultan global yang didirikannya, Albright Stonebridge Group.

Culture | Politics
Foto: Ist

Kepada Teen Vogue, Madeleine mengungkapkan bahwa kisah hidupnya seringkali diangkat oleh media sebagai contoh atau teladan keberhasilan seorang pengungsi di Amerika Serikat. Padahal, di masa kecil hingga remajanya sebagai pengungsi, ia hanyalah seorang anak biasa yang berusaha menyesuaikan diri di tempat barunya. Baginya itu adalah hal yang sangat normal. Sebagai pendatang, Madeleine juga mengalami benturan budaya di mana orang tuanya sangat ketat membatasi pergaulan Madeleine agar tidak ‘terlalu Amerika’.

Di masa sekolah menengah, Madeleine mulai tertarik dengan isu-isu kebijakan luar negeri dan hubungan internasional. Ia bahkan membentuk grup diskusi mengenai isu-isu tersebut di sekolahnya. Aktivitas tersebut terus berlanjut hingga masa kuliah hingga akhirnya ia meraih gelar PhD dari Columbia University. Selepas studinya, Madeleine bekerja untuk Ed Muskie, seorang senator dari Partai Demokrat. Di saat yang sama, Madeleine juga menjadi dosen hubungan internasional di Georgetown University.

Semasa bekerja untuk Ed Muskie, Madeleine mendapat tugas tambahan untuk membantu Presiden Jimmy Carter di Dewan Keamanan Nasional. Karirnya semakin menanjak ketika pada tahun 1992, Presiden Bill Clinton menunjuk Madeleine sebagai Duta Besar Amerika Serikat di PBB. Pada tahun 1997 hingga 2001, Madeleine berada di puncak karirnya sebagai wanita pertama yang menjabat Sekretaris Negara Amerika Serikat.

Kini, bersama firma kolsultannya, Madeleine berkeliling Amerika Serikat untuk menjadi pembicara dan mengadvokasi isu-isu hubungan internasional. Selain itu, ia juga masih mengajar studi kebijakan internasional di Georgetown University. Di awal bulan lalu, Madeleine menerbitkan buku terbarunya yang berjudul Fascism: A Warning. Buku tersebut tentunya berhubungan dengan praktik politik dan bernegara terkini yang mencerminkan tindak fasisme di Amerika Serikat. Kepada Teen Vogue, Madeleine berujar bahwa fasisme adalah luka masa lalu yang hampir sembuh. ‘Kelakuan’ Donald Trump dalam berpolitik justru membuka luka lama tersebut.

Culture | Politics
Foto: Ist

Menutup wawancaranya dengan Teen Vogue, Madeleine berpesan kepada generasi milenial untuk menjadi diri sendiri dan berusaha menjadi spesial di bidangnya masing-masing. Harapannya, generasi muda kini semakin membuka mata lebar-lebar dalam segala hal, khususnya dalam hubungan masyarakat di negara yang penduduknya majemuk dan hubungan internasional agar tidak terisolasi dari perkembangan global. Semasa Madeleine aktif di pemerintahan, ia selalu mengadvokasi dan mendukung kebijakan yang membangun ‘jembatan’ antar negara. Kini, Amerika Serikat malah sibuk membangun tembok di perbatasan Meksiko dan menarik diri dari berbagai kesepakatan internasional yang strategis.

Post your comments on Facebook