Tidak terasa, bulan Ramadhan sebentar lagi akan kembali tiba. Tanggal 1 Ramadhan 1439 H diperkirakan akan jatuh di minggu kedua bulan Mei 2018. Untuk itu, persiapkanlah mental dan fisik untuk menghadapi bulan Ramadhan agar ibadah puasa dan rutinitas sehari-hari dapat berjalan dengan lancar tanpa mengganggu satu dengan lainnya. Salah satu cara mempersiapkan mental dan fisik dalam menghadapi bulan Ramadhan adalah menjalankan ibadah puasa Senin dan Kamis. Puasa Senin dan Kamis merupakan salah satu ibadah umat Islam yang terbukti bermanfaat bagi kesehatan. Manfaat puasa Senin dan Kamis bahkan telah dibuktikan oleh beragam studi ilmiah. Salah satunya yang menjadi pembicaraan hangat sejak tiga tahun lalu adalah diet 5:2, sebuah metode diet yang sangat populer di Inggris.

Health
Foto: Ist

Bulan lalu, diet 5:2 kembali menjadi topik hangat yang diangkat media The Evening Standard melalui artikel terkait studi ilmiah diet 5:2, di mana para partisipan studinya makan secara normal selama 5 hari dan mengurangi asupan kalori selama 2 hari. Studi tersebut diterbitkan di jurnal ilmiah British Journal of Nutrition dan telah diulas di banyak media besar dunia seperti The Telegraph, Business Insider, CNN dan lainnya. Untuk itu, kali ini WANITA.me menyarikan dari berbagai sumber mengenai beberapa manfaat puasa Senin dan Kamis bagi kesehatan dan juga sebagai rekomendasi mempersiapkan diri menghadapi ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Menjaga Berat Badan

Health
Foto: Ist

Salah satu temuan studi “5:2 Diet” pada 27 partisipan dengan obesitas adalah bahwa berat badan mereka turun sebanyak 5 persen dalam 59 hari dari 73 hari waktu yang ditentukan. Selama dalam masa puasa 2 hari setiap minggunya, para partisipan mengurangi asupan kalori hingga 600 kalori per-hari. Dalam prosesnya, para peneliti mengawasi metabolisme lemak dan glukosa para partisipan. Mereka kemudian menemukan bahwa diet 5:2 lebih cepat membersihkan lemak (triglyceride) dari darah tepat setelah makan daripada diet mengurangi kalori dengan sistem diet per-hari.

Menyehatkan Jantung dan Otak

Health
Foto: Ist

Temuan lain dari studi diet 5:2 adalah bahwa tekanan darah sistolik para partisipan berkurang hingga 9 persen. Sementara partisipan yang tidak menjalani diet 5:2 mengalami peningkatan tekanan darah sistolik hingga 2 persen. Para peneliti mengungkapkan bahwa penurunan tekanan darah sistolik dapat mengurangi tekanan pada arteri sehingga efektif mencegah potensi serangan jantung dan stroke. Tekanan darah sistolik merupakan tekanan pada pembuluh darah saat jantung berdetak.

Meningkatkan Metabolisme Kekebalan Tubuh

Dua tahun lalu, jurnal Cell Stem Cell menerbitkan studi tentang manfaat berpuasa yang dapat membantu regenerasi sel induk (stem cell). Studi tersebut berhubungan dengan beberapa studi lain tentang manfaat berpuasa bagi penderita kanker. Selain itu, berpuasa juga mengistirahatkan sistem kerja usus dan pencernaan. Dengan kata lain, saat tubuh tidak mengonsumsi makanan, sistem pencernaan akan mencari cara alami untuk membakar lemak dan mengubahnya menjadi energi secara efisien.

Health
Foto: Ist

Tanya Dorff, seorang dokter spesialis kanker dari Department of Medical Oncology & Therapeutics Research di Rumah Sakit City of Hope, California, mengungkapkan bahwa berpuasa merupakan upaya mengontrol pengalaman sensorik (lapar dan kenyang) dari mengonsumsi makanan dan pola makan sembarangan. Dengan demikian, berpuasa seperti tombol restart bagi tubuh dalam mengatur metabolisme hingga mencapai titik paling alami. Tanya juga menerangkan bahwa salah satu alasan mengapa beberapa pemeriksaan medis seperti cek darah dan kemoterapi tertentu membutuhkan puasa adalah agar tubuh berada dalam kondisi metabolismenya yang paling prima.

Menjaga Stabilitas Emosi

Health
Foto: Ist

Berpuasa pada hakikatnya adalah untuk membangun rasa sabar. Beberapa studi di bidang psikologi mendukung pernyataan tersebut bahwa berpuasa baik dari sisi ilmiah maupun rohaniah pada dasarnya membiasakan sifat sabar, memperkuat kemauan diri dan melatih kontrol diri. Sebagaimana dikemukakan pada poin sebelumnya bahwa rasa lapar dan kenyang sebenarnya hanyalah pengalaman sensorik tubuh yang dimotivasi oleh lingkungan sekitar. Padahal tubuh tidak serta-merta membutuhkan pengalaman sensorik tersebut.

Post your comments on Facebook