Tanggal 21 April menjadi momen yang spesial di setiap tahunnya, jika Anda menghabiskan masa kecil di Indonesia maka Anda pasti mengetahui momen bersejarah ini. Memperingati hari kelahiran pahlawan Indonesia, Kartini di setiap tanggal 21 April mendatang biasanya semasa kecil Anda khususnya para perempuan akan berdandan cantik dengan kebaya atau baju adat lainnya. Untuk para laki-laki, momen hari Kartini adalah hari di mana Anda bisa tampil ke sekolah dengan gagahnya.

ibu kartini | Opinion
Foto: Ist

Untuk usia yang sudah tidak lagi menginjak anak-anak dan bersekolah seperti dulu, momen Hari Kartini menjadi menarik karena banyak pendapat lain di media sosial tentang “Siapa sih Kartini yang sebenarnya?”. Banyak yang mengatakan bahwa Ibu Kartini adalah overrated, dan masih banyak pahlawan wanita lainnya yang sebenarnya pantas dijadikan teladan. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau dipengaruhi dan sebenarnya adalah ciptaan Barat.

Terlepas dari semua pertanyaan tersebut, Kartini sebagai manusia adalah sosok yang dapat memberi Anda semua inspirasi. Sungguh, beliau adalah seorang wanita yang layak diteladani oleh ‘kita’ (para generasi yang hidup di Indonesia 13 dekade setelahnya).

Jadi, apa saja yang harus Anda ketahui tentang sosok Ibu Kartini? Berikut ini wanita.me memberikan 7 hal mengenai sosok Ibu Kartini.

1. Kartini memang terkenal dengan surat-suratnya, ia tidak pernah ragu bertindak nyata. Pada usianya yang belum genap 23 tahun, saat ia aktif merayu Ayahnya sampai kementerian di Batavia demi sekolah khusus untuk kaumnya (wanita).

• Pada usianya belum genap 23 tahun, beliau mengungkapkan rencana besar untuk membuka sekolah untuk para perempuan dan para pengukir kayu Jepara. Ini sebenarnya bukanlah rencana awal beliau, aslinya Kartini mempunyai keinginan pergi ke STOVIA atau sekolah untuk dokter Jawa. Tetapi, sang Ayah tidak memberi izin karena khawatir Kartini akan menjadi satu-satunya murid perempuan di sana nantinya. Hal tersebut digagalkan lingkungannya, Kartini tidak patah semangat ia menumbuhkan rencana baru : dengan mendirikan sekolah dan menjadi guru. Dua adiknya diajak turut serta membantu. Tidak hanya mengajar berhitung dan berbahasa saja, Kartini ingin murid-muridnya dapat menjahit dan mengerjakan keterampilan rumahan, agar tidak hanya cerdas di kepala, tapi juga cekatan dengan tangannya. Sekolah ini memang tidak sampai terealisasi. Kartini harus meninggal di usia muda, belum genap 25 tahun tepatnya. Namun semangatnya tetap menyala dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Buktinya, mulai tahun 1912 Keluarga Van Deventer dari Belanda untuk membuka sekolah-sekolah Kartini di seluruh penjuru Jawa.

2. Kartini memang tidak mendirikan organisasi. Ia tidak turun ke jalan dan panas-panasan untuk berdemonstrasi. Tetapi beliau berupaya lewat apa yang ia miliki: kecerdasan sejati dan keberanian untuk bermimpi.

• Anda jangan lupa, keadaan kita sekarang dan Kartini sangatlah jauh berbeda. Jangan menjadikan kemuddahan berdiskusi dan berorganisasi yang kita miliki sekarang ini sebagai patokan untuk menilai cara beliau mewujudkan cita-citanya. Jangankan membuat organisasi Raden Adjeng Kartini bahkan tidak diizinkan keluar dari rumah besarnya di Jepara. Saat sang Ayah berbaik hati membawa Kartini pergi ke pesta perayaan ulang tahun Ratu Wihelmina di Batavia saja, para tamu heboh sendiri melihat Kartini yang belum menikah tampil di depan umum. Hal tersebut karena beliau “dikondisikan” untuk tinggal di rumah, Kartini juga lebih banyak menghabiskan waktu menulis surat pada teman-temannya di Eropa serta membaca buku. Bacaannya sangat luas sekali, mulai dari novel-novel sastra sampai majalah lifestyle wanita, dari koran ternama sampai Max Havelaar. Bahasa Belanda, Perancis, dan Jerman ia pelajari. Mungkin saat itu jika sudah ada bahasa pemograman, Kartini akan menjadi ahli C++ dan Phyton terbaik yang pernah ada.

ibu kartini | Opinion
Foto: Ist

3. Kartini tidak sibuk bergalau ria tentang masa depan dirinya saja. Pada usia yang begitu muda, surat-suratnya mencerminkan pemikiran yang dalam serta kecerdasan merangkai kata.

• Apakah Anda pernah membaca Door Duisternis Tot Licht (dalam bahasa Indonesianya, Habis Gelap Terbitlah Terang) ? Pasti Anda sepakat bahwa kumpulan surat tersebut terbaca bagaikan candu. Di sana, Kartini tidak hanya menceritakan impian dan rencana-rencana besarnya saja. Ia juga menceritakan tradisi di Hindia Belanda sambil memprotes praktik penjajahan yang ada. Opium, agama, sampai sastra tidak luput dibahasnya. Kartini sadar bahwa apa yang ia cita-citakan tidak akan datang jika hanya bermalas-malasan. Kita benar-benar kehilangan sosok Kartini ketika beliau meninggalkan kita di usianya yang begitu muda. Bayangkan apa saja yang bisa ia ciptakan seandainya Tuhan memberinya umur yang lebih panjang.

ibu kartini | Opinion
Foto: Ist

Setelah artikel ini, wanita.me akan kembali membahas tentang kelanjutan 4 hal yang belum terbahas di dalam artikel ini.

Post your comments on Facebook