Pernahkah anda merasa curiga ketika sesuatu yang baik terjadi dalam hidup anda? Kemudian anda merasa seakan-akan hal tersebut tidak mungkin terjadi dan sepertinya harus ada sesuatu yang diwaspadai. Ketahuilah bahwa perasaan tersebut merupakan salah satu ciri dari penyakit mental yang dinamakan cherophobia. Dilansir dari media The Independent (09/04), beberapa ahli medis dunia telah mengklasifikasikan cherophobia sebagai bagian dari penyakit mental (depresi dan rasa cemas berlebih). Lebih tepatnya, cherophobia merupakan rasa curiga berlebih atas hal-hal baik yang terjadi dalam hidup.

Family | Family Health
Foto: Ist

Para penderita cherophobia tidak selalu sedih. Mereka hanya menghindari aktivitas yang membawa kebahagiaan dalam hidup. Laman media kesehatan Healthline merangkum beberapa gejala penderita cherophobia yang antara lain adalah:

  • Cemas ketika diundang ke acara-acara sosial (undangan pernikahan, pesta ulang tahun dan sebagainya).
  • Melewatkan kesempatan yang dapat mengubah hidup karena takut akan terjadi sesuatu (promosi jabatan, mutasi, beasiswa dan sebagainya).
  • Menolak berpartisipasi pada aktivitas keseharian yang menyenangkan (olahraga bersama teman-teman, makan malam bersama, perlombaan dan sebagainya).
  • Curiga bahwa kebahagiaan dapat mengubah diri menjadi seseorang yang berbeda (lebih buruk dari keadaan sekarang).
  • Percaya bahwa menunjukkan (memamerkan) kebahagiaan berdampak buruk bagi pergaulan, termasuk bagi keluarga.
  • Percaya bahwa mengusahakan kebahagiaan hanyalah membuang waktu dan upaya.

Carrie Barron, seorang psikolog dan kontributor Psychology Today, mengungkapkan bahwa banyak kemungkinan yang dapat dibicarakan dalam hal cara mengejar kebahagiaan di zaman sekarang ini. Maka apabila seseorang menolak emosi positif yang menghasilkan kebahagiaan, hal tersebut kemungkinan besar merupakan sebuah gangguan mental. Dua alasan utama yang melatarbelakangi seseorang menderita cherophobia adalah rasa enggan yang tinggi untuk berkonflik dan trauma atas pengalaman buruk. Sederhananya, penderita cherophobia memiliki asumsi dasar bahwa nasib buruk tidak dapat dihindari meskipun kebahagiaan telah diusahakan dengan upaya sekeras mungkin.

Family | Family Health
Foto: Ist

Masih dikutip dari laman The Independent, seorang blogger dan seleb media sosial Amerika Serikat, Stephanie Yeboah, yang mengaku sebagai penderita cherophobia mengungkapkan bahwa dalam kasusnya, ia mengalami trauma yang sangat dalam. Ia selalu dihantui rasa putus asa karena ia meyakini bahwa tidak ada yang abadi di dalam hidup. Menurut pengalamannya, pengobatan pasien cherophobia tidak bisa disamakan dengan penderita depresi (obat penenang dan sejenisnya). Bagi Stephanie, psikoterapi dan terapi perilaku kognitif adalah metode efektif penanganan penderita cherophobia. Melalui dua metode tersebut, pasien akan diarahkan untuk memahami penyebab trauma dan secara perlahan menghapus asosiasi negatif atas segala sesuatu yang telah terjadi. Pada akhirnya, pasien akan dapat membedakan antara kesenangan (pleasure) dan kepedihan (pain).

“Chero” pada kata cherophobia berasal dari kata “chairo”, bahasa Yunani yang artinya bersuka cita. Sama seperti duka cita, suka cita adalah sebuah kepastian dalam hidup. Yang membedakan keduanya adalah cara dan tingkat setiap orang dalam mengapresiasi (mensyukuri) suka dan duka. Selain itu, cherophobia sangat berkaitan dengan trauma masa lalu. Dengan kata lain, anda harus memahami bahwa cherophobia merupakan sebuah mekanisme pertahanan diri yang diinisiasi oleh otak (seperti antibodi dalam tubuh) agar anda tidak mengalami hal buruk berulang kali. Untuk itu, cherophobia pada dasarnya adalah sebuah pola pikir yang tentu dapat diubah meskipun dengan bantuan terapi dan medis.

Post your comments on Facebook