“Kesedihan tidak untuk dipampangkan kepada semua orang. Karena kesedihan adalah hal yang sangat pribadi, seperti rahasia, harus disembunyikan dari orang lain” –N.H Dini

Apakah kamu familiar dengan novelis wanita satu ini? Karya-karyanya seperti Pada sebuah Kapal (1977), Hati yang Damai (1988) La Barka (1975), dan Namaku Hiroko (1977) serta banyak lagi karya beliau yang lain dan ramai diperbincangkan. Tak kurang dari 20 buku telah dihasilkan oleh wanita yang juga mendapatkan julukan sebagai penulis novel legendaris yang mempunyai nama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Sukatin ini. Buku-bukunya banyak mendapat respon positif dari kalangan cendekiawan.

Culture | books
Foto : Ist

Dalam banyak novelnya N.H Dini kerap berbicara mengenai kisah perempuan yang tertindas. Tak heran beberapa penghargaan bergengsi sudah ia sabet seperti Bakrie Award dibidang kesusasteraan. Pada kesempatan penyerahan award tersebut, penulis yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menulis selama 60 tahun itu menyampaikan apirasinya pada pemerintah. Dimana ia menyinggung sikap pemerintah yang dirasa belum maksimal pada nasib penulis seperti dirinya. Mereka belum mendapatkan apresiasi yang selayaknya. Padahal pengabdian para satrawan telah turut andil dalam mencerdaskan bangsa melalui dunia literasi.

Culture | books
Foto : Ist

N.H Dini  dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah pada 29 Februari 1936. Ia merupakan bungsu lima bersaudara dari pasangan Saljowidjoyo dan Kusaminah. Ketertarikannya dengan dunia kepenulisan sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Ibunya yang seorang pembatik diakuinya yang sangat membawa pengaruh besar terhadap bakat menulisnya serta membentuk watak dan pemahamannya pada lingkungan.

Kemampuan menulisnya justru semakin terasah saat ia bekerja menjadi seorang pramugari maskapai penerbangan nasional GIA (Garuda Indonesia Airways).  Ketika itu ia berhasil menerbitkan sebuah buku yang berisi kumpulan cerpen berjudul “Dua Dunia”. Buku tersebut menjadi best seller. Sebuah prestasi yang luar biasa untuk ukuran buku sastra zaman itu.

Culture | books
Foto : Ist

N.H Dini banyak mengangkat dan menyoroti soal permasalahan seputar dunia perempuan. Maka tak heran ia dikenal sebagai sastrawan feminis. Kemampuannya mengupas dan menyajikan konflik pada perempuan tampaknya tak lepas dari perjalanan hidupnya yang sarat dengan pergerakan dan kesabaran. Ia menikah dengan diplomat Perancis bernama Yves Coffin pada tahun 1960 di Kobe, Jepang. Pernikahan N.H Dini bersama suaminya membuahkan dua orang anak yaitu Marie Claire Lintang dan Pierre Louis Padang Coffin. Kedua anaknya kini menetap di Kanada dan Perancis.

Culture | books
Foto : Ist

Di masa tuanya N.H Dini memilih untuk tinggal di panti Wreda Mulya, Sleman. Tetapi kondisi ini tak membuat beliau patah arang. Menghadiri berbagai seminar, tetap setia melanjutkan aktivitas menulis serta membuat rumah baca di Sekayu adalah sederet kegiatan perempuan yang juga menerima penghargaan SEA Write Award ini, sebuah penghargaan dunia kepenulisan dari pemerintah Thailand.

Karya – karya N.H Dini memang telah lawas, namun sampai sekarang dirasa masih memiliki kesinambungan hingga di masa kini. Supaya dapat dijadikan sebagai media pembelajaran bagi penulis zaman sekarang, betapa beratnya perjuangan penulis perempuan dimasa lampau untuk menuju kesuksesan.

Post your comments on Facebook