Semenjak smartphone menjadi tren, bermunculan kasus-kasus klinis yang berkaitan dengannya, akibat penggunaannya yang berlebihan. Ekspos terhadap layar smartphone – dan sinyal elektromagnetiknya – menjadi momok berbagai jenis penyakit, mulai dari yang akut seperti stroke, kanker otak dan mata, hingga yang berkaitan dengan mental seperti autisme dan kepribadian ganda. Meskipun smartphone belum tentu menjadi satu-satunya penyebab mutlak atas penyakit-penyakit tersebut, hingga kini banyak penelitian yang masih berjalan dan menyimpulkan beberapa hal.

Family | Family Health
Foto: Ist

Salah satu hal yang menjadi sorotan banyak peneliti di dunia adalah bahwa smartphone menyebabkan Screen Dependency Disorder (SDD), yaitu ketergantungan terhadap layar dan sangat rentan terjadi pada anak-anak. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan maksimal satu jam waktu bagi anak berumur dua hingga lima tahun untuk terekspos dengan layar smartphone atau gadget serupa, sebagaimana dilansir dari media Smart Parenting (01/08). AAP bahkan melarang untuk mengekspos smartphone kepada bayi di bawah 18 bulan.

Claudette Avelino-Tandoc, spesialis dan konsultan pendidikan dini dan tumbuh kembang anak dari AAP, mengungkapkan bahwa anak penderita SDD akan sangat bergantung pada smartphone untuk beraktivitas, mulai dari bangun tidur langsung mencari smartphone-nya, tidak mau makan tanpa smartphone hingga pada saat kumpul keluarga pun perhatiannya akan tertuju kepada layar smartphone. Gejala awal yang harus diwaspadai adalah sulitnya mengajak sang anak untuk berkomunikasi (umumnya tidak mau menatap mata), sulit untuk tidur malam dan sulit bersosialisasi di sekolah.

Dr. Aric Sigman, seorang psikolog dari Amerika Serikat yang studinya menjadi acuan tentang SDD, mengungkapkan bahwa pada dasarnya SDD adalah perilaku kecanduan. Layaknya perilaku seorang pecandu, gejala SDD pada anak adalah berbohong tentang durasi penggunaan smartphone meskipun telah dilarang. Gejala tingkat tingginya adalah kehilangan ketertarikan pada dunia luar hingga perilaku-perilaku lain yang problematis.

Family | Family Health
Foto: Ist

Claudette dan Sigman menyepakati satu hal bahwa apabila gejala-gejala awal SDD dibiarkan bereskalasi pada tingkat kecanduan, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kerusakan pada otak anak. Salah satu temuan penelitian Sigman adalah SDD mempengaruhi insula, yaitu suatu bagian pada otak yang memproses dan merangsang rasa empati dan kasih sayang terhadap sesama. Maka tidak aneh apabila anak yang menderita SDD cenderung cuek dan anti-sosial.

Untuk itu, orang tua perlu melakukan pembatasan waktu penggunaan smartphone pada anak. Pasanglah aplikasi smartphone yang bermanfaat seperti aplikasi belajar mengenal warna, membaca dan berhitung. Hapus aplikasi media sosial dan streaming agar anak tidak terekspos pada ruang lain (cyberspace) yang tidak mengenal atau menjamin etika umur tertentu. Sebagai alternatif, kembalilah pada hal-hal tradisional seperti memberikan anak pensil warna dan buku gambar untuk merangsang kreativitasnya.

Post your comments on Facebook