Lady Gaga dan Bradley Cooper baru saja merilis film terbarunya berjudul A Star Is Born pada 19 Oktober 2018 lalu. Film ini merupakan debut Bradley di bidang penyutradaraan, karena selain menjadi pemain utama, ia juga menjabat sebagai produser sekaligus penulis naskah.  Lady Gaga memerankan lakon bernama Ally Campana, sementara Bradley Cooper memerankan Jackson Maine. Sejumlah kritikus film dunia, menyebut penampilan keduanya sangat brilian dan layak diganjar nominasi Oscar tahun depan.

Premis A Star Is Born versi terbaru ini memang terbilang tak terlalu beda dengan tiga film sebelumnya yang mengusung judul sama. Ceritanya seputar kisah redupnya seorang bintang di kala bintang baru mulai berpijar. Film orisinalnya yang rilis di tahun 1937, menceritakan tentang Norman Maine (Fredric March), seorang aktor papan atas yang membantu Esther (Janet Gaynor), gadis desa asal Dakota untuk menjadi aktris terbaik versi Academy Awards. Pada tahun 1954, film itu dibuat ulang menjadi versi musikal yang masih mengangkat kisah sama. Norman Maine (James Mason) yang berupaya menjadikan Esther (Judy Garland) dari penyanyi band kecil jadi bintang film peraih Piala Oscar. Sementara remake film ketiganya benar-benar musikal dengan unsur lebih rock n roll. Versi tahun 1967 itu mengangkat kisah seorang rocker John Norman Hoffman (Kris Kristofferson) yang membuat Esther (Barbra Streissand) berhasil memboyong Grammy Awards sebagai Penyanyi Perempuan Terbaik.

Culture | movie
Foto : Ist

Ada dua kesamaan mencolok yang bisa ditemukan dalam keempat versi film A Star Is Born, yakni hidup semua protagonis pria di dalamnya kelak akan berakhir tragis. Di saat karier pasangannya meroket tanpa henti, karier mereka justru meredup. Kesamaan berikutnya, hampir di setiap kisah yang diangkat selalu menampilkan bias tentang pria yang berkuasa dan perempuan yang penurut. Pun cerita yang dipaparkan oleh Bradley Cooper dalam versi terbarunya ini. Penyanyi Country, Jackson Maine yang diperankan oleh Cooper, secara tak sengaja bertemu dengan Ally (Lady Gaga) yang sedang bernyanyi di sebuah drag bar. Ia seketika jatuh cinta dengan suaranya, lalu menonton si perempuan muda itu menciptakan lagu balada tentang dirinya secara spontan, di depan sebuah supermarket.

Ally memang digambarkan sebagai sosok perempuan yang penuh talenta, tak hanya sebagai penyanyi tapi juga pencipta lagu. Sayangnya, ia butuh Maine untuk membawanya ke atas panggung, ruang studio rekaman, dan ke hadapan manajer musik pencetak megabintang dunia. Secara jelas dan utuh, naskah Cooper berhasil menggambarkan situasi ini ke dalam layar film.

Hidup seorang Ally dalam semesta A Star Is Born selalu terjepit di bawah ketiak para laki-laki, yakni ayahnya, bos di restoran tempatnya bekerja, sahabat karibnya, dan bahkan Jackson Maine yang kelak jadi suaminya. Semua pria itu nyaris mendikte hidup Ally, tanpa ia sadari. Bahkan, di sepanjang film itu, Ally terlihat selalu mengatakan ‘tidak’ yang kemudian dikonversi jadi ‘iya’ oleh para pria tersebut.

Namun di sisi lain, ketimbang tiga Esther dalam A Star Is Born lainnya, peran Ally kali ini justru lebih cerewet dan pemberontak. Meski opininya selalu susah untuk jadi juara, tapi beberapa kali penonton akan melihat Ally mencoba menentang sistem di sekitarnya, mencoba mencekik visinya, terutama ketika berhadapan dengan sang manajer.

Perbedaan yang lebih besar justru ditunjukkan karakter Jack Maine yang lebih terlihat hidup dan manusiawi. Pria satu ini digambarkan amat sangat maskulin, tubuh atletis, suara bariton, kulit cokelat karena sering terpapar matahari, rambut gondrong berminyak karena keringat, hingga permainan gitar yang apik. Maskulinitasnya bahkan mampu membuat Jack Maine susah menangis dan bermanis-manis. Namun, personanya yang kuat dan keras kepala justru berubah drastis sejak bertemu Ally. Jack lebih sering tersenyum, mengurangi kecanduan alkoholnya, dan semakin produktif.

Gambaran-gambaran adegan seperti ini, sebenarnya merupakan kritik Cooper pada dunia patriarki yang maskulin. Misalnya saja seperti lokasi tempat Jack dan Ally bertemu yang biasa disebut drag bar. Drag adalah istilah yang kerap digunakan para penghibur malam yang biasanya menerobos batas-batas gender melalui penampilan mereka di atas pentas. Sebutan ini lazim dipakai oleh para perempuan yang berdandan maskulin atau pria yang berdandan feminin. Kritik-kritik akan budaya patriarki itu tak tanggung-tanggung diselipkan oleh Cooper. Ia juga sempat menyindir perspektif patriarki yang seringkali memandang perempuan sebagai objek belaka dan mudah untuk diklaim.

Culture | movie
Foto : Ist

Kritik paling pedas yang diselipkan Cooper secara nyata adalah saat Jack Maine tak sengaja kencing di celana, ketika istrinya sedang berpidato menerima piala Grammy pertamanya. Melalui adegan tersebut, Cooper ingin menggambarkan betapa para pria di industri hiburan Hollywood mulai ketakutan hingga kencing di celana, saat melihat para perempuan masa kini mulai bersuara dan didengarkan.

Cooper memang dinilai tak membuang premis orisinal A Star Is Born yang ingin menangkap kekejian perlakuan diskriminatif industri hiburan terhadap perempuan. Ia bahkan tak ragu melakukan mansplaining di beberapa adegan. Tak lupa juga menyelipkan sejumlah dialog legendaris dari film-film sebelumnya, tapi tetap memberikan sentuhannya sendiri di beberapa titik yang membuat A Star Is Born versi Lady Gaga ini benar-benar berbeda dan luar biasa istimewa.  

Post your comments on Facebook