Motif-motif batik tidak melulu terinspirasi dari bentuk-bentuk alam, tetapi juga bisa dibuat dari motif hasil kreasi. Seperti yang dilakukan oleh Rumah Kreatif Balikpapan di Kalimantan Timur yang telah enam tahun lebih membuat karya batik inovatif yang telah menarik minat pelanggan dari mancanegara.

Rumah Kreatif Balikpapan merupakan salah satu komunitas kreatif yang produktif berkreasi produk batik. Batik-batik yang dihasilkan pun bukan batik biasa, namun berupa batik khas Balikpapan dan motifnya sangat beragam. Tidak hanya bermotif alam, tetapi juga bermotif fotografis seperti panorama pertambangan ataupun lainnya. Rumah kreatif yang telah ada sejak 2010 ini sejatinya berawal dari program Chevron, sebuah perusahaan pertambangan yang beroperasi di Balikpapan. Pada saat itu Chevron ingin memberdayakan para tunadaksa yang telah mendapatkan bantuan kaki palsu untuk bisa lebih produktif. Batik kemudian menjadi pilihan.

Namun batik yang dibuat RKB bukanlah batik biasa. Melainkan batik natural yang pewarnaannya tidak menggunakan pewarna tekstil ataupun bahan kimia. Sehingga batik yang dihasilkan lebih ramah lingkungan dan menjadi ciri khas RKB. Yahnawati, salah seorang mengungkapkan bahwa Rumah Kreatif Balikpapan telah banyak membina kalangan disabilitas untuk produktif menjadi pecanting. Produk-produk karya mereka kemudian diolah dan dipasarkan oleh RKB.

“RKB tidak hanya memberdayakan masyarakat disabilitas, karena untuk saling melengkapi, juga ada keluarga kalangan Chevron yang juga diajak untuk mengelola. Saya salah satunya,” ujar perempuan yang bergabung RKB sejak awal tahun 2011 itu. Ia yang mulanya tidak pernah mengerti bagaimana cara untuk membatik, akhirnya mengerti bagaimana mencanting dan bahkan mewarnai batik. Dan kini dalam satu minggu setidaknya dirinya bisa menyelesaikan sekitar 2 lembar batik.

Motif batik | Art
Foto: Ist

“Kita pecanting itu rata-rata kalau kain panjang dua meter setengah, dapet dua maksimal dalam seminggu. Tapi belum diwarnai,” jelasnya. Jumlahnya memang relatif sedikit, namun memang mengingat proses produksinya yang dilakukan di sela-sela kegiatan rumah tangga. “Karena saya ibu rumah tangga ya itu jadinya sambilan. Kalau saya nyanting itu dari pagi. Kalau pekerjaan rumah selesai jam 10 jam 11 saya nyanting sampai jam 2. Trus nanti saya lanjutkan lagi jam jam 8 malam. Kalau misalnya ada order yang harus cepat, saya bisa dari pagi nyambung ke malam bisa sampai jam 12 malam. Memang harus satu per satu dikerjakannya. Beda kalau cap atau diprint. Pengaruh juga kalau kita sedang tidak mood, cantingannya itu bisa rusak,” jelasnya.

Produk-produk RKB nyatanya banyak diminati kalangan menengah atas sebab selain motifnya tidak biasa, pewarnaan alami juga membutuhkan biaya produksi yang cukup tinggi. Beberapa yang diminati alah kain souvenir bermotif yang kerap dijadikan hiasan dinding. Peminatnya bisa sampai ke Jepang dan Amerika Serikat. Selama ini, kegiatan RKB kurang lebih telah banyak membantu masyarakat yang telah terlibat. Baik para tunadaksa maupun ibu-ibu rumah tangga seperti Yahna. Sebab kegiatan ini dianggap cukup membantu kebutuhan rumah tangga.

Motif batik | Art
Foto: Ist
Motif batik | Art
Foto: Ist

“Membantu banyak sih enggak, tapi lumayan untuk uang saku anak. Kita ingin membeli sesuatu sendiri juga cukup tanpa membebani suami,” jelas Yahna.

Sampai saat ini, kurang lebih telah terdapat 14 motif khas yang telah dihasilkan oleh Rumah Kreatif Balikpapan. Beberapa diantaranya adalah jajaran buah mangrove, nuansa alam hutan mangrove, beruang madu, untaian pakis, sepinggan, aneka mangrove, kilang dan tirtamaya. Salah satu diantaranya bahkan telah dipatenkan oleh pemerintah kota sebagai motif khas Balikpapan.

Ke depan, RKB diharapkan untuk bisa lebih berkembang dengan batik-batik yang lebih umum. Seperti batik-batik yang menggunakan teknik cap ataupun pewarnaan tekstil. Meski tidak seluruhnya dan tetap memproduksi batik alami, namun RKB juga akan tetap mengedepankan motif-motif inovatif sebagai ciri khasnya.

Post your comments on Facebook