Polemik atas manfaat dan bahaya konsumsi MSG hingga kini masih terus diperdebatkan. Di awal bulan ini, laman media sosial Today I Watched merilis video mengenai fakta bahwa MSG (penyedap rasa yang populer di Indonesia dengan sebutan mecin atau micin) ternyata tidak membahayakan kesehatan. Dalam dua dekade terakhir, MSG digadang-gadang sebagai penyebab beberapa penyakit kronis seperti kolesterol, diabetes, jantung, stroke dan kanker apabila dikonsumsi secara berlebihan. Banyak studi yang dibuat oleh dokter dan ahli medis yang melarang konsumsi makanan ber-MSG untuk mencegah dan mengurangi resiko terkena penyakit-penyakit tersebut.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Dalam video yang dirilis laman Today I Watched, dijelaskan sebuah fakta bahwa MSG atau monosodium glutamate merupakan zat yang pada dasarnya secara alami terkandung di dalam tubuh maupun makanan-makanan alami lainnya seperti ikan, daging, telur, susu, biji-bijian dan ASI. Dengan kata lain, MSG terbuat dari bahan yang aman dan tidak asing bagi tubuh. Selain itu, dikemukakan pula bahwa MSG adalah bahan penyedap yang sudah lazim digunakan, khususnya di wilayah Asia, sejak seabad lalu.

Lalu bagaimana polemik MSG ini bermula? Dalam video, dikisahkan sejarah penemuan, popularisasi dan industrialisasi MSG. Pada tahun 1908, Seorang ahli kimia Jepang bernama Kikunae Ikeda mengolah monosodium glutamate dari rumput laut yang dikeringkan untuk memberikan rasa unik pada makanan yang populer dengan rasa umami. Selama lebih dari 20 tahun Ikeda mengembangkan rasa umami yang kemudian dijual secara massal dengan merk Aji No Moto. Merk micin tersebut juga sangat populer di Indonesia.

Ramuan Aji No Moto akhirnya tiba di Amerika Serikat pada tahun 1950’an. Selama lebih dari 10 tahun selanjutnya, tidak ada masalah apapun mengenai rasa umami dari Aji No Moto yang ‘menginvasi’ Amerika Serikat. Masalah bermula ketika pada tahun 1968, sebuah surat keluhan terbit di jurnal New England Journal of Medicine. Surat keluhan tersebut berasal dari seorang dokter yang merasa tidak enak badan setelah makan di restoran Cina. Sebagai dokter, ia kemudian berteori bahwa penyebabnya adalah kandungan MSG. Teori tersebut tidak sempat diuji dan malah ‘disambut’ dengan keluhan-keluhan serupa dari khalayak umum.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Polemikpun terjadi dan berbagai ilmuwan turut serta di dalamnya. Istilah “Chinese Restaurant Syndrome” lahir pada masa awal polemik MSG terjadi. Selayaknya sebuah pembuktian teori dalam ilmu pengetahuan, perdebatan di dalamnya tentu sangatlah sengit. Banyak studi yang pro terhadap MSG akan tetapi tidak sedikit pula yang kontra terhadapnya. Terlepas dari segala polemik yang terjadi, benang merah yang dapat diambil dari beberapa studi dan kajian yang redaksi temukan di internet adalah untuk tidak mengonsumsi makanan ber-MSG secara berlebih dan selalu imbangi asupan-asupan gizi dan nutrisi pada tubuh.

Post your comments on Facebook