Kartini,  Kisah yang Tersembunyi (Javanica, 2016) yang ditulis oleh Aguk Irawan MN mengangkat latar belakang dan kisah hidup Kartini sang pahlawan nasional yang identik dengan terminologi emansipasi wanita. Biografi ini dapat dilihat sebagai sebuah upaya pelestarian sekaligus pembaharuan data historis yang layak mendapat pujian karena tidaklah mudah untuk menelusuri sejarah Kartini, mengingat narasi-narasi yang ada hanya berkisar pada kumpulan surat-surat beliau – yang berisikan ide, gagasan dan curahan hati seorang wanita Indonesia pada masanya – yang dikirimkan kepada sahabatnya di Belanda. Mungkin hanya Pramoedya Ananta Toer yang pernah mengangkat Kartini sebagai tokoh yang utuh dalam Panggil Aku Kartini Saja.

Dikisahkan hubungan asmara antara seorang perempuan jelata bernama Ngasirah dengan seorang bangsawan bernama Sosroningrat yang kelak menjadi orang tua dari Kartini. Pada masa itu (di Jawa) bukanlah hal aneh untuk seorang bangsawan mempersunting perempuan jelata. Kekuasaan memudahkannya. Sosroningrat juga memiliki istri lain yang berasal dari kalangan bangsawan.

Kartini sangat beruntung karena diizinkan untuk mengenyam sekolah, tidak seperti perempuan pada umumnya. Meninggalkan rumah bagi seorang perempuan pada masa itu dikatakan sebagai aib. Kakak perempuan Kartini, Sulastri, tidak merasakan sekolah dan benar-benar dididik untuk menjadi “ningrat”. Di sekolah, Kartini yang sejak kecil memang “berbeda” dengan saudara-saudarinya, semakin menemukan jati diri dan jalan hidupnya. Di sekolah, Kartini berteman dengan Letsy, seorang Eropa yang kemudian akan menjadi salah satu sahabat penanya.

Dalam buku ini, Aguk menyertakan beberapa perspektif yang cukup menyegarkan tentang Kartini, budaya Jawa yang patriarkal dan saling-silangnya dengan budaya kolonial pada masa itu. Bukankah ironis bahwa pemikiran-pemikiran Kartini tentang pembebasan dan perubahan muncul pada saat dia dalam tradisi pingitan, di mana dia “dikurung” dan dunia yang dapat dilihatnya secara kasat mata hanyalah lingkungan rumahnya? Tradisi yang seharusnya membuat Kartini menjadi “ningrat” justru mengubahnya menjadi seorang resisten. Ya, ironis memang akan tetapi meskipun dalam pingitan, Kartini diberikan dan diizinkan untuk membaca majalah dan buku oleh Ayahnya. Membaca dan menulislah yang dilakukan Kartini dalam masa pingitannya dan mengasah jiwa perlawanannya.

Perspektif lain yang cukup layak untuk disorot adalah peranan Sosroningrat sebagai Ayah Kartini. Aguk menekankan, “Sejarah perlu mencatat keadaan ini sebab Sosroningratlah bupati pertama di tanah Jawa yang ‘membiarkan’ anak perempuannya bersekolah,” (hal. 113). Di satu sisi, Sosroningratlah yang mengizinkan Kartini mengenyam bangku sekolah sedangkan di sisi yang lain beliau pula yang melarang Kartini untuk melanjutkan pendidikan. Sosroningrat yang pernah merasakan pendidikan Eropa mungkin melihat kebutuhan pendidikan untuk perempuan akan tetapi tradisi Jawa juga menahannya untuk mengizinkan Kartini bersekolah lagi karena dapat menyebabkan aib dan berdampak pada karirnya. Politis!

Biografi ini ditulis dalam bentuk cerita. Layaknya membaca sebuah novel, biografi ini membawa kita ke suatu waktu, tempat dan tokoh-tokoh yang dinarasikan sedemikian rupa sehingga Kartini tergambarkan sebagai figur hidup dan nyata serta layak untuk dikenang. Selain itu, Aguk juga menyertakan analisis dan kritik di sana-sini, khususnya terkait budaya patriarki.

“Ngasirah, siapa yang peduli padanya? Kecuali pada kecantikannya? Kemolekan tubuhnya? Yang dibalut kulit langsatnya yang bersih dan bersinar? Para penulis seperti setengah hati untuk menyingkap hubungan cintanya dengan asisten wedana Mayong itu [Sosroningrat].” (hal. 42)

Kartini: Kisah yang Tersembunyi merupakan sebuah narasi baru tentang Kartini sang pahlawan nasional. Bagi anda yang menyukai sejarah, budaya, feminisme atau studi pascakolonial, buku ini dapat menjadi bacaan yang cukup menarik. Hal-hal yang perlu terus dikaji setiap membaca pemikiran dan jasa-jasa para pahlawan adalah apakah pemikiran mereka masih relevan di zaman sekarang? Dan, apakah perjuangan mereka telah tercapai?

“Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya adalah dosa di mataku.”
(Surat Kartini pada Stella Zeehandelaar, 18 Agustus 1899)

Maju terus, wanita Indonesia!

Post your comments on Facebook