Seberapa tahukah kita kalau karya anak bangsa telah menembus pasar dunia? Bahkan sangat disukai bule-bule luar negeri. Keindahan dari segi desain dan perpaduan warna yang diberikan membuat pesona sendiri pada setiap karyanya.

Seperti sepatu dengan merek “Niluh Djelantik” dipasarkan dengan mengedepankan kualitas dan cinta dari sang desainernya membuat sepatu ini memiliki nilai prestige luar biasa. Niluh Djelantik menekankan pada sepatu high heels yang nyaman dikenakan walaupun dipakai selama 8 jam. Banyak artis dan tokoh dunia seperti Julia Robert, Uma Thurman, supermodel Gisele Bundchen dan Tara Reid, juga Robyn Gibson menyukai sepatu ini.

Culture | Opinion
Foto : Ist

Mulanya sepatu Niluh Djelantik memiliki nama dagang Nilou yang merupakan pelesetan kata dari sang perancang sepatu Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik. Pembuatan sepatu ini terinspirasi dari masa kecil Ni Luh yang tidak pernah mendapatkan sepatu sesuai ukuran kakinya. Karena keterbatasan ekonomi sepatu yang dikenakan saat sekolah selalu kebesaran dan oleh sang ibu diganjal menggunakan kain. Namun, saat sepatu itu pas dia kenakan malah rusak dan berlubang.

Masa kecil yang keras mendidik Ni Luh menjadi sosok yang pantang menyerah dan selalu berpikiran maju. Ketika harus menentukan pilihan masa depan, antara memilih melanjutkan pekerjaannya sebagai Direktur Marketing perusahaan busana milik Paul Ropp atau menetap di Bali dan mewujudkan mimpi membuat sepatunya.

Culture | opinion
Foto : Ist

Akhirnya Ni Luh memilih tetap di Bali bersama ibunya dan dia bertemu dengan Cedric Cador. Ni Luh bekerja sama dengan Cendric untuk memasarkan sepatu buatannya sampai ke Eropa. Ternyata sepatu merek Nilou itu sangat digemari sampai ada pesanan sebanyak 4000 sepatu datang. Ekspansi pasar merambah sampai ke 20 negara di dunia, sampai akhirnya ada partner dari Autralia dan Prancis yang menawarkan saham besar padanya namun sepatu Nilou harus diproduksi secara massal di Cina.

Ni Luh dihadapkan dengan pilihan yang sulit bukan karena tawaran dengan imbalan yang besar namun kalau menolak bisa dipastikan mempengaruhi kelangsungan hidup bisnisnya. Akhirnya Ni Luh menolak karena baginya membuat sepatu bukan sekadar mendapatkan laba tetapi juga ada cinta dalam setiap sepatu yang dihasilkannya. Tanpa sepengetahuannya sang partner telah mematenkan merk Nilou dan membuat Ni Luh harus membutuh brand yang telah dibesarkannya.

Culture | opinion
Foto : Ist

Walaupun sempat merasa down akhirnya Ni Luh bangkit lagi dengan membuat sepatu dengan merek Niluh Djelantik dan kini langsung dia patenkan. Semua yang dikerjakan dengan cinta dan kesungguhan pasti akan mendapatkan hasil yang sepadan.

Niluh Djelantik telah menembus retailer terkemuka di Eropa, Globus Switzerland pada 2011 dan masuk pasar Rusia pada tahun 2012. Berbagai Penghargaan juga telah diraih diantaranya Best Fashion Brand & Designer The Yak Awards in 2010. Dinominasikan sebagai Ernst & Young for Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2012 Awards.

Menurut Ni Luh kesuksesan adalah sebuah tangga, bukan sebuah lift atau tangga berjalan. Kalian harus menapaknya satu demi satu agar kalian bisa menghargai setiap momen yang kalian jalani, setiap perjuangan yang kalian lalui

Post your comments on Facebook