Dengan banyaknya upaya yang dilakukan berbagai pihak untuk mendukung budaya berantas korupsi Indonesia. Cara yang dilakukan pun bermacam-macam, mulai dari yang normal dan biasa saja sampai cara unik dan anti mainstream.

Badan resmi pemberantasan korupsi di Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sendiri telah mengupayakan berbagai cara untuk mengkampanyekan penanaman sikap anti korupsi. Beberapa di antaranya adalah melalui permainan edukatif yang diharuskan untuk anak, menggelar kegiatan panggung hiburan yang bekerja sama dengan PT. KAI, sampai membuat permainan berupa board game dan game online yang berpusat di gedung lama KPK.

Tetapi bukan hanya KPK saja yang giat dan berkonsentrasi mengupayakan penanaman sikap anti korupsi lewat cara yang populer, terdapat pula beberapa tokoh publik lain dalam berbagai profesi yang juga berjuang untuk hal tersebut. Salah satunya adalah penulis perempuan Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2012, Okky Madasari.

memberantas korupsi | Books
Foto: Ist

Okky Madasari, wanita kelahiran Magetan, 30 Oktober 1984 ini bukanlah nama yang asing di jagad literasi. Beberapa novel yang diterbitkannya berhasil mendapatkan respon posotif dari pembaca tanah air. Pada tahun 2012, ia berhasil memenangkan sebuah penghargaan sastra yang paling dirayakan dan utama di Indonesia. Untuk novel ketiganya, Maryam ia berhasil memenangkan dalam Penghargaan Sastra Khatulistiwa. Selain itu ia juga terpilih menjadi Penulis Indonesia Pilihan di ajang Frankfrut Bookfair 2015.

Pada saat usianya 28 tahun, ia mendapatkan Penghargaan Sastra Khatulistiwa. Dan ia tercacat sejarah sebagai orang termuda yang memenangkan penghargaan prestisius tersebut. Kiprah dan konsentrasinya di bidang literasi membuat ia ingin ikut berkontribusi dalam upaya pemberantasan korupsi lewat bidang yang ia gemari. Hal tersebut dituturkannya setelah menyatakan dukungan kepada KPK melalui konferensi pers bersama aktivis Perempuan Antikorupsi di Kantor Indonesia Corruption Watch (ICW) yang bertempatan di Kalibata.

Dalam konferensi pers tersebut, Okky menyampaikan keinginannya untuk terus mendukung pemberantasan korupsi lewat novel, seperti yang telah ia lakukan lewat novelnya yang terbit pada tahun 2011 berjudul 86. Novel tersebut menceritakan seorang pegawai pengadilan yang terpengaruh oleh keburukan sistem dan orang-orang di sekitarnya sampai mempengaruhi karakter dirinya. Pegawai pengadilan yang awalnya sama sekali tidak memiliki niat untuk melakukan korupsi akhirnya terjebak menerima suap sampai ditangkap KPK.

beranatas korupsi | Books
Foto: Ist
berantas korupsi | Books
Foto: Ist

Okky menyatakan, seandainya novel yang mengangkat isu korupsi seperti novelnya dapat dibaca banyak orang, dan dapat dibaca anak SMP, SMA, ia percaya akan memunculkan generasi baru yang anti korupsi. Ia percaya bahwa suatu kisah memiliki kekuatan yang besar dalam mempengaruhi pemikiran seseorang. Berangkat dari hal tersebut, Okky merasa bekerja sama dengan KPK menjadi hal yang perlu, agar masyarakat dapat memahami pentingnya budaya anti korupsi lewat hal-hal yang dekat, personal, dan dapat menjangkau semua kalangan, seperti novel.

berantas korupsi | Books
Foto: Ist

Selain novel. Ia juga ingin bekerjasama langsung dengan KPK untuk mengangkat semangat memberantas korupsi ke media yang lebih luas dan populer jangkaunnya, yaitu film. Hal tersebut menjadi salah satu konsentrasinya karena bagi Okky, sejak dahulu korupsi merupakan permasalahan utama di masyarakat yang dapat menjangkit semua kalangan mulai dari kelas bawah, menengah, sampai masyarakat kelas atas.

Semoga apa yang telah di lakukan oleh Okky, dan semua harapannya dapat diberlakukan kembali di generasi baru untuk mengatakan dan bertindak SAYA ANTI KORUPSI.

Post your comments on Facebook