Parfum atau minyak wangi adalah salah satu aksesoris sehari-hari yang cukup penting. Parfum digunakan pada beragam objek keseharian seperti pakaian, ruangan, mobil dan terutama tubuh untuk menghilangkan bau badan. Dalam definisi umumnya, parfum adalah suatu campuran atau ramuan cair yang menghasilkan aroma wangi yang terdiri dari beragam minyak aroma, material wewangian hingga bahan kimia.

Culture | opinion
Foto : Ist

Parfum memiliki sejarah yang panjang sebelum menjadi komoditas modern yang diproduksi secara massal beserta pilihan-pilihan fragrance yang ada. Seperti banyak sejarah komoditas modern lainnya, sejarah parfum dapat ditelusuri sejak zaman Mesir Kuno dan Mesopotamia yang kemudian dikembangkan oleh peradaban Romawi dan Persia. Pada masa Mesir Kuno, aroma wewangian digunakan untuk ritual pemakaman. Agar mayat tidak mengeluarkan bau busuk, parfum diaplikasikan dalam bentuk asap dan cairan (balsam).

Beberapa literatur sejarah juga mencatat peradaban Mesir menggunakan cairan atau minyak wangi pada kulit perempuan untuk beberapa kesempatan, seperti festival kerakyatan, pengusiran roh jahat, kosmetik dan calon pengantin. Ekspansi Kerajaan Romawi kemudian menjadikan parfum berpotensi sebagai komoditas global.

Culture | opinion
Foto : Ist

Dalam konteks Kerajaan Romawi, sejarah parfum dapat dikatakan bersifat kultural karena bentrok antar kebudayaan terjadi pada masa tersebut. Gereja menganggap kehidupan para elit Kerajaan Romawi yang suka dandan (mandi dan menggunakan wewangian) tidak sesuai dengan semangat prajurit gereja yang terbiasa hidup keras. Sebaliknya, Romawi menganggap bau badan pasukan musuh (kaum barbar) yang tidak sedap dapat memengaruhi kinerja pasukan romawi atau bahkan menjadi sumber penyakit. Bentrok budaya tersebut terjadi pada abad ke 4 hingga ke 5. Dalam perkembangannya hingga abad ke 6 beberapa gereja menggunakan incense pada ritual keagamaannya.

Kembali ke Mesir, rempah-rempah yang tumbuh di tanah Arab seperti cinnamon dan cassia menjadi komoditi wewangian para pedagang Arab. Dalam buku Aroma: The Cultural History of Smell (Routledge, 1994), tercatat bahwa rute perdagangan global pada era kuno menjadi pertemuan komoditas parfum dari Timur dan Barat. Istilah Arabia felix atau ‘Arab yang berbahagia’ adalah sebutan yang diberikan oleh Bangsa Roma kepada Bangsa Arab karena komoditas wewangiannya.

Culture | opinion
Foto : Ist

Abad ke 17 menjadi puncak kesuksesan parfum, terutama di Perancis pada tahun 1656. Pada tahun tersebut banyak produsen parfum bermunculan. Booming industri parfum pada masa itu bahkan membuat Louis ke XV menamakan pengadilannya the perfumed court. Aplikasi parfum untuk selain tubuhpun mulai dilakukan pada abad ini. Parfum tidak lagi untuk kulit tubuh akan tetapi juga diaplikasikan pada pakaian dan furniture.

Abad ke 18 kemudian menjadi tahun revolusioner di dunia parfum dengan ditemukannya eau de Cologne. Penggunaan botol-botol parfum yang unik mulai digunakan pada abad ini. Parfum berbotol kaca yang terkesan elegan menjadi tren abad ini mengikuti botol parfum yang digunakan oleh Louis XIV. Perancis hingga kini masih menjadi kiblat wewangian dunia. Merk ternama seperti Nina Ricci, Givenchy, Yves Saint Laurent Parisienne dan lainnya masih terus mengembangkan fragrance dan bersaing satu sama lain.

Culture | opinion
Foto : Ist

Menilik sejarahnya, wewangian dari parfum yang kita pakai atau tercium dari objek sehari-hari ternyata juga membawa aroma kultural dan politis. Di sisi yang lain, yaitu dari perspektif medis, wewangian kini dapat juga diaplikasikan sebagai bentuk terapi (aroma therapy). Belum lagi dari perspektif psikologis di mana bau atau aroma tertentu dipercayai dapat menstimulus respon emosi seseorang. Dengan segala keunikan historis dan aplikasinya, parfum sederhananya adalah suatu penanda estetika bagi indera penciuman layaknya warna bagi indera penglihatan.

Post your comments on Facebook