Persoalan LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual dan Transgender) yang marak di kalangan masyarakat membuat para orang tua prihatin. Pendukung LGBT marak mengkampanyekan penyakit ini di tengah masyarakat dengan dalih pengakuan hak asasi manusia (bagi pelaku LGBT). Sebagai orang tua, perlu untuk menyadari pentingnya mencegah wabah penyakit tersebut pada anak-anak kita.

  Orang tua perlu melakukan pencegahan sejak dini, agar anak terhindar dari penyakit psikoseksual. Penyakit ini bisa menjadi salah satu faktor penyebab anak menjadi penyuka sesama jenis. Dalam hal ini, orang tua bisa mulai memperhatikan pola asuh anak mulai dari balita hingga memasuki usia remaja.

Family | family education
Foto : Ist

   Berikut adalah pola asuh yang bisa diterapkan orang tua pada anak-anaknya untuk mencegah terkenanya penyakit LGBT menurut dr. Miftahul Hayati M Psi Psikologi (Psikolog Anak RS Awal Bros Pekanbaru), antara lain :

  • Usia anak 2-4 tahun

 

Family | family Education
Foto : Ist

 Dalam Islam biasanya ini disebut sebagai fase dasar pembentukan karakter anak. Pada fase ini anak dirawat dengan kasih sayang yang secukupnya dan mempunyai role model yang jelas. Pada usia ini secara alami seorang anak sudah mulai memahami antara perempuan dan laki-laki. Sehingga diperlukan figur yang dapat dicontoh untuk memperkuat karakternya.

“Sejak lahir seorang anak sudah mempunyai dua sisi maskulin dan feminin  sehingga peran orang tua dalam pembentukan karakter anak sangat penting, fase ini juga disebut dengan fase kritis,” ujarnya.

Family | family education
Foto : Ist

  Pola asuh yang seimbang sangat diperlukan pada fase ini. Anak akan cenderung lebih dekat dengan ibunya karena lebih mempunyai sisi kelembutan. Tapi apabila dalam keluarga ibu lebih dominan maka anak akan cenderung lebih dekat dengan ayah.

  Anak sudah mulai diberikan pendidikan seks dengan memberikan pengenalan organ intim. Pengajaran mengenai bagian intim yang hanya boleh disentuh oleh dirinya sendiri dan orang tua sudah mulai diberikan pada usia ini. Bahkan orang tua pun harus minta izin lebih dulu sebelum menyentuhnya.

Family | family education
Foto : Ist

  Mengajarkan pada anak mengenai disiplin, memberi kesempatan pada anak kapan harus bicara atau memperhatikan ajaran yang sedang diberikan orang tua. Orang tua sudah mulai mengontrol keinginan anak. Sebagai role model, orang tua mulai memberikan contoh pada anak untuk menepati janji. Perilaku ini akan diikuti anak dengan belajar menepati janji pada orang tua lebih dulu.

  • Usia anak 6-10 tahun (masa penguatan)
Family | family education
Foto : Ist
  1. Anak tidak boleh diajarkan untuk mempermainkan bagian tubuh yang sensitif. Seperti mencubit organ intim karena lucu atau mencium bibir anak karena gemas.
  2. Orang tua harus lebih memperhatikan hobi anak. Misal seorang anak laki-laki bermain masak masakan atau seorang anak perempuan bermain mobil mobilan bisa kita perhatikan peran apa yang diambil anak. Dengan demikian, sebagai orang tua bisa mengetahui karakter anak.
  3. Hindarkan seorang anak melihat adegan seks orang tuanya sendiri.
  4. Jangan memberikan label negatif atau memperkuat karakter anak yang salah. Misalnya saat anak melakukan kesalahan, orang tua mengatakan “kamu nakal” atau “kamu bodoh”.
  5. Memberikan ajaran agama yang benar pada anak. Memberikan kesempatan anak untuk menerima curahan hati orang tua, agar anak merasa mempunyai peran dalam keluarga.
  • Usia anak 11 – 14 tahun
  1. Lebih selektif dalam memilih bacaan atau film untuk anak. Utamakan yang bisa membangun karakter anak.
  2. Proteksi akun media sosial anak dengan mengetahui user dan password-nya.
  3. Perhatikan pola pergaulan anak terhadap lingkungannya. Tidak baik membiasakan anak perempuan berteman dengan kaum laki-laki secara dominan. Jika dibiarkan dalam waktu yang lama bisa mempengaruhi karakter anak, misalnya lebih menyukai pakaian mirip seperti laki-laki. Peran ibu juga dibutuhkan lebih besar jika seorang anak perempuan yang mempunyai saudara dominan laki-laki.

  Seorang anak laki-laki juga tidak baik jika dibiasakan berteman dengan perempuan secara dominan. Jika dalam keluarga saudara perempuan lebih dominan maka ayah harus lebih dekat dengan anaknya. Hal ini akan dapat mempengaruhi kondisi psikologi anak.

     Penularan penyakit LGBT ini biasanya terjadi pada pergaulan yang tidak pantas. Orang tua sebaiknya lebih menjaga anak dari perkembangan pergaulan sesama yang tidak baik. Biasanya perkembangan ini terjadi melalui televisi, gadget, game dan lain sebagainya. Peran orang tua dibutuhkan untuk mengontrol penggunaan teknologi pada anak sehingga tidak di salah gunakan.

Family | family education
Foto : Ist

  Anak yang sudah berada di bangku SMP atau SMA sudah bisa dipahamkan dengan acara formal seperti seminar. Mereka akan lebih mudah paham dan bersemangat dengan apa yang sudah dijelaskan dalam kajian. Ajak anak-anak untuk menghadiri acara seminar agar lebih mudah memahami bahaya LGBT.

  Orang tua harus tegas tehadap anak mengenai pemahaman bahaya LGBT ini. Waspada pada bahaya ini sejak dini lebih penting agar anak-anak tidak terkena wabahnya. Satu hal yang perlu ditanamkan pada anak, azab Allah yang akan diterima pelaku LGBT baik di dunia maupun di akhirat.

Post your comments on Facebook