Belakangan marak pemberitaan mengenai kejahatan seksual pada anak-anak di media sosial. Meskipun pelakunya sudah ditangkap dan jaringan predator anak  tersebut telah berhasil dibongkar oleh pihak kepolisian, namun tidak berarti kejahatan serupa tidak akan terulang kembali.

Sebab, dari sekian banyak kasus yang terjadi pelaku adalah orang yang dekat dengan anak. Misalnya tetangga, penjaga anak atau orang yang terlihat senang pada anak-anak. Pola perilaku pelaku kejahatan mampu menarik perhatian anak-anak dengan sikapnya yang lembut dan penuh kasih sayang, meskipun tidak memiliki hubungan kerabat sekalipun.  Apabila telah terjalin hubungan emosianal yang baik, biasanya orangtua jarang menaruh curiga pada pelaku untuk berdekatan anak.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa orang yang dekat anak mampu menyakitinya. Kemana ayahnya yang seharusnya menjadi pelindungnya? Bukankah salah satu peran Ayah sebagai tameng atau pelindung keluarga dari hal-hal yang sekiranya mengancam keselamatan seluruh anggota keluarga.

Kejahatan seksual yang menimpa anak-anak sejatinya dapat dihindari jika peran Ayah telah ditunaikan sebagaimana mestinya. Menurut psikolog, anak yang menjadi sasaran korban kejahatan berasal dari anak yang kurang mendapatkan kasih sayang orang tua, terlebih Ayah.

family | family education
Foto : Ist

Anak-anak korban perceraian, anak yang orangtuanya sangat sibuk mencari nafkah, terlebih anak dari keluarga yang banyak konflik disinyalir menjadi target korban. Lemahnya pengawasan Ayah sebagai kepala keluarga telah membuka peluang kejahatan pada anggota keluarganya.

Lantas bagaimana sebaiknya peran Ayah menyikapi dalam upaya menghindari kejahatan seksual?

Berikut beberapa tips bagi para Ayah yang mungkin dapat dipraktekkan:

  1. Berikan pakaian yang sopan pada anak.

Acuan sopan disini merujuk pada tatanan berbusana sebagaimana mestinya sesuai adat tradisi dan agama yang berlaku di Indonesia. Melalui pakaian yang sopan, Ayah mampu memberikan edukasi pada anak bahwa area tubuh tertentu menjadi terlarang untuk disentuh. Berkolaborasi dengan sang ibu yang notabene mengasuh anak ajaran itu ditanamkan sejak dini.

      2. Latih life skill anak

Mengajarkan kemandirian pada anak sedini mungkin merupakan salah satu kecakapn hidup yang mesti dipahami Ayah. Misalnya sejak usia 3 tahun anak sudah mampu melakukan toilet training tanpa ditemani orang dewasa. Disamping itu berikan pemahaman yang sebenarnya tentang nama bagian tubuh yang vital, misalnya penis, vagina, anus, payudara, putting dan testis. Serta sampaikan juga cara merawatnya.

     3. Berikan perhatian penuh pada anak

Upayakan agar anak tidak merasa kekurangan kasih sayang dan kesepian akibat Ayah terlampau sibuk bekerja. Luangkan waktu untuk mendekap, memeluk anak-anak dan dengarkan celotehan mereka. Menurut Psikolog, anak yang terpenuhi kebutuhan cinta kasih dari Ayah tidak akan mudah percaya orang asing. Terutama anak perempuan yang dekat dengan Ayah tidak akan mudah menyerahkan dirinya pada lelaki.

Bila Ayah menjalankan semua peran tersebut, semoga anak-anak yang menjadi target korban kejahatan seksual jauh berkurang bahkan sedapat mungkin celah untuk pelaku melakukan kejahatan tidak ada lagi. Karena para Ayah telah menutup peluang tersebut terjadi pada anak-anaknya.

Post your comments on Facebook