Untuk para penikmat musik di Tanah Air, XI Creative The Promotor akan menyelanggarakan acara musik yang akan menampilkan lima band kebanggaan tanah air, berbagi panggung dalam konser super megah “5UPERGROUP LIVE IN CONCERT” yang akan dilaksanakan di Plenary Hall, Jakarta Convention Center pada 21 November 2017 mendatang. Lima band kenamaan tersebut diantaranya adalah God Bless, Krakatau, Gigi, Kahitna, dan Sheila on 7.

Krakatau | Music
Foto: Ist

Pada artikel sebelumnya, Wanita.me telah membahas perjalanan karir music band rock legendaris Indonesia, God Bless. Konser 5UPERGROUP merupakan konser pertama di Indonesia yang menampilkan lima band terbaik dari berbagai genre. Kali ini, Wanita.me akan membahas Krakatau yang akan tampil di konser 5UPERGROUP mendatang.

Krakatau merupakan nama sebuah kelompok music jazz-worldmusic Indonesia. Krakatau yang namanya terinspirasi dari Gunung Krakatau, dimotori oleh Dwiki Dharmawan dan Pra Budi Dharma. Tetapi dalam perjalanan kariernya grup musik ini mengalami banyak pergantian personel sampai perubahan genre musiknya. Awalnya, Krakatau memainkan jazz, rock, dan fussion jazz, tetapi kini menjadi Jazz-Worldmusic. Sepanjang kariernya Krakatau mengalami tiga kali perubahan besar. Formasi pertama adalah Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Donny Suhendra dan Budhy Haryono. Formasi kedua adalah Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Donny Suhendra, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan dan Trie Utami. Dan formasi terakhir sampai kini adalah Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma, Nya Ina Raseuki (Ubiet), Ade Rudiana, Yoyon Dharsono, Zainal Arifin, dan Gerry Herb. Kelompok ini telah melalang buana ke berbagai negara di Eropa, Amerika, Kanada, Asia bahkan ke Amerika Latin.

Krakatau dibentuk pada tahun 1984 di Cipaganti, Bandung atas prakarsa Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Budhy Haryono dan Donny Suhendra. Pada saat itu Pra Budidharma yang piawai dalam bermain bass baru saja pulang dari Amerika Serikat. Dwiki Dharmawan (keyboard) adalah lulusan sekolah musik di Bandung. Budhy Haryono (drum), adalah mantan anggota Jamrock, kini bernama Jamrud dan Donny Suhendra dikenal akrab di kalangan pemusik Bandung sebagai gitaris jazz rock. Mereka bersepakat membentuk sebuah grup musik yang berkiblat pada musik-musik fusion jazz. Pertama tercetus ide dengan menggunakan nama Delta, kemudian Mesopotamia, dan akhirnya pilihan jatuh pada nama Krakatau, yang kebetulan letak geografisnya juga di daerah Jawa Barat sesuai dengan asal grup musik ini dibentuk.

Krakatau memang menentang arus musik pada masa itu, yang kebanyakan di Indonesia didominasi oleh musik-musik rock seperti contohnya El Pamas, Power Metal dan Slank. Juga tren penyanyi-penyanyi wanita yang dikenal dengan julukan lady rocker, seperti contohnya Ita Purnamasari, Nicky Astria, Atiek CB , Nike Ardila dan Anggun C. Sasmi. Karena banyaknya penyanyi yang mencuat berasal dari Bandung, maka pada masa itu musisi asal Bandung mulai dijadikan barometer bagi industri musik di Indonesia. Banyak pihak dari kalangan penyelenggara yang berminat menyelenggarakan festival-festival rock untuk mencari bibit-bibit pemain baru. Uniknya disela-sela itu, masih banyak juga kalangan musisi dan penikmat musik yang berapresiasi pada musik lain yaitu musik jazz. Salah satunya dengan adanya Jazz Corner, suatu acara jazz yang kerap diadakan di Bumi Sangkuriang, Ciumbuleuit, Bandung. Krakatau tampil untuk pertama kalinya di Bumi Sangkuriang. Dengan format awal tanpa menggunakan seorang vokalis. Kehadiran Krakatau terasa membawa warna lain karena memainkan jazz fusion yang pada waktu itu masih tergolong jarang dan tak biasa. Satu-satunya band jazz pendahulunya yang pernah terbentuk asal Bandung adalah D’Marzio. Namun band ini hanya pernah tercatat dalam kurun waktu era tahun 1970-an saja.

Krakatau | Music
Foto: Ist
Krakatau | Music
Foto: Ist

Dari pojok jazz di Bumi Sangkuriang itu, Krakatau mulai menjadi perhatian musisi muda Bandung. Kemudian grup musik ini mulai berfikir untuk mencari vokalis yang sekiranya cocok untuk Krakatau. Pada awalnya vokalis Krakatau adalah Harry Moekti, seorang vokalis dengan warna rock serak ala Rod Stewart. Namun Harry Moekti tak berlangsung lama. Kemudian Ruth Sahanaya sempat mendapatkan tawaran untuk mengisi kekosongan pada posisi vokalis. Akhirnya pilihan Pra Budidharma jatuh pada sosok Trie Utami. yang menurutnya menarik dan berbakat, namun waktu itu Trie Utami belum berstatus sebagai seorang vokalis. Ia masih lebih dikenal sebagai pemain piano dan penyiar sebuah radio bersegmen remaja. Krakatau makin lama makin unjuk gigi, terlihat pada penampilannya pada malam tahun baru 1985, Krakatau menunjukkan permainan terbaiknya saat bermain pada acara Jazz Break di Bumi Sangkuriang. Dalam pertunjukkan itu, Krakatau memainkan jenis jazz fusion ala Miles Davis dan berhasil sukses memikat dan memukau para pengunjung penikmat jazz.

Pada tahun 1986 Krakatau mendapat tawaran rekaman untuk yang pertama kali, tawaran itu datang dari perusahaan rekaman musik Billboard. Namun Krakatau masih memiliki sejumlah kendala, pertama Krakatau belum memiliki lagu sendiri, Ke dua Ruth Sahanaya belum mengiyakan tawaran menjadi vokalis Krakatau. Di kemudian hari, Ruth Sahanaya memilih untuk menjadi penyanyi solo dan menjalin kerjasama dengan Aquarius Musikindo. Beberapa waktu setelah itu Dwiki mencoba menawarkan kembali kepada Trie Utami untuk mengisi kekosongan vokalis di tubuh Krakatau , ternyata Trie yang juga teman kecil dari Dwiki saat belajar musik di Bina Musika, Bandung itu menerima tawaran tersebut. Padahal Trie tidak pernah bercita-cita menjadi penyanyi sebelumnya.

Pada titik awal ini Krakatau akhirnya menyerah pada selera pasar, Budhy Haryono pemain drum Krakatau saat itu memilih untuk keluar, karena Budhy memang tidak pernah berniat membentuk grup musik yang terlalu menuruti pasar. Awalnya Krakatau memang lebih banyak memainkan jazz fusion instrumental seperti Uzeb dan The Yellow Jacket. Untuk persiapan rekaman akhirnya posisi Budhy digantikan oleh Gilang Ramadhan dan penambahan pemain keyboard yang diisi oleh Indra Lesmana. Pada formasi ini akhirnya lahirlah hits single “Gemilang” pada tahun 1986. Album pertama Krakatau ini menjadi kental dengan nuansa musik pop. Tak ada nuansa jazz eksperimental seperti yang mereka impikan sejak pertama dulu.

Krakatau | Music
Foto: Ist
Krakatau | Music
Foto: Ist

Dan pada penghujung tahun 2016, Krakatau hadir mengobati kerinduan pecinta musik jazz dengan merilis album berjudul “Chapter One”. 11 lagu dipersembahkan grup jazz yang kini dikenal dengan nama Krakatau Reunion. Lagu-lagu pada album Chapter One diantara Aku Kamu Kita, Cermin Hati, Hanya Dapat Melihat, Family, Mata Ke Mata, Let My Heart Free, Moon Stone, Lingers on My Mind, Cerita Persahabatan, Seraut Wajah dan Nusa Terluka. Butuh dua waktu dua tahun album ini selesai. Proses produksi Chapter One sendiri berlangsung di Bali, sementara mastering di New York Amerika. Dari 11 lagu, ada satu lagu lama yang diaransemen ulang berjudul “Seraut Wajah”. Sementara tiga lagu ditulis dalam bahasa inggris yakni Family, Let My Heart Free dan Lingers on My Mind.

Krakatau | Music
Foto: Ist
Krakatau | Music
Foto: Ist

Secara garis besar tak ada perubahan corak dan musikalitas pada album ini. Menurut Indra Lesmana yang berbeda hanya pada proses penggarapan yang menurutnya sangat menyenangkan. Terakhir kali Krakatau Reunion hadir pada 2006 dengan double album yakni The Rhythm of Reformation dan 2 Worlds. Masih dengan formasi yang sama dengan 24 tahun silam, Krakatau Reunion diisi musisi-musisi hebat, seperti Trie ‘Iie’ Utami (Vocal), Dwiki Dharmawan dan Indra Lesmana (Keyboardist), Pra Budi Dharma (Bass), Donny Suhendra (Gitar), dan Gilang Ramadhan (Drummer).

Untuk Anda pengggemar grup band Jazz-Worldmusic ‘Krakatau’ jangan sampai tidak melihat aksi panggung mereka dalam konser 5UPERGROUP LIVE IN CONCERT, 21 November 2017 mendatang. Anda dapat membeli tiketnya melalui www.tokopedia.com/xic, id.bookmyshow.com, atau melalui email promotor di xic.tiket@gmail.com.

Post your comments on Facebook