Tahukah anda bahwa profesi public relation (PR) di bidang fashion adalah profesi yang membentuk sekaligus menjalankan tren serta lanskap industrinya? PR merupakan pintu penghubung antara desainer dan media. Menurut Dana Gers, Direktur Pemasaran dan Komunikasi Global Net-A-Porter, sebelum internet dan media sosial menjadi tren, peran PR hanya sebatas ‘merayu’ media agar dapat mempromosikan suatu produk, sebagaimana dikutip dari Vogue Australia (30/05). Kini, saluran komunikasi antara desainer, media dan konsumen semakin luas. Terlebih dengan munculnya beragam platform media sosial, di mana setiap orang dapat mempromosikan – atau menjelekkan – suatu produk. Mereka inilah yang disebut influencer. 

Selain urgensinya yang sangat dibutuhkan di dunia fashion, profesi PR menjadi salah satu profesi yang dapat dijadikan sebagai batu loncatan bagi lulusan-lulusan baru yang ingin berkarir di balik layar industri fashion. Melvin Chua, seorang PR executive untuk Giorgio Armani, Burberry dan Louis Vuitton di Cina, mengungkapkan bahwa terlepas dari kemajuan teknologi, tugas dasar seorang PR tetap sesederhana menghubungkan desainer dengan media. Kepada Vogue Australia, Dana dan Melvin serta beberapa PR executive lainnya berbagi beberapa tips bagi anda yang berminat mendalami profesi Fashion PR.

Bidang Studi Apa yang Harus Diambil?

Meskipun bidang studi PR telah berdiri di dunia akademis sejak lama, Dana dan Melvin memiliki pandangan yang berbeda mengenai studi yang dapat menunjang performa di bidang PR. Dana merupakan penggemar studi-studi dalam lingkup fakultas liberal arts. Selain itu, Dana menekankan untuk hanya mendalami studi yang anda sukai dan membangkitkan passion anda untuk berkarya. Dana merupakan lulusan Cornell University yang membangun karirnya dari nol di Jimmy Choo, Ferragamo dan Baccarat.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Sejalan dengan pemikiran Dana, Melvin menganjurkan untuk mengambil studi-studi di bidang bahasa dan sastra atau sejarah. Menurut pengalaman Melvin, studi-studi tersebut terbukti efektif mengajarkan cara seseorang untuk mengolah informasi, memformulasikan solusi dan berbicara di depan umum. Melvin sangat tidak menganjurkan untuk mendalami studi bisnis dan manajemen untuk menjadi Fashion PR karena industri fashion berjalan sangat cepat dan seringkali lebih cepat dari perkembangan ilmu akademisnya.

Bagaimana Mendapatkan Pengalaman Kerjanya?

Culture | Opinion
Foto: Ist

Carla Filmer, Direktur Komunikasi Global Manolo Blahnik, sangat menyarankan untuk mulai bekerja di masa kuliah. Menurut Carla, hal tersebut sangat bermanfaat untuk membangun jaringan. Dana mengiyakan pendapat tersebut karena di masa awal karirnya, ia sama sekali tidak mengenal seluk-beluk industri fashion. Ia bahkan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai PR executive dari seseorang yang dikenalnya di sebuah pesta. Kesimpulannya adalah perkuat jaringan sejak dini untuk menembus industri fashion.

Apa Saja Kriterianya Bagi Lulusan Baru?

Alexis Arnault, Managing Director KCD di Paris, mengungkapkan bahwa secara sederhana, dalam setiap merekrut ia hanya menimbang passion dan keinginan untuk bekerja keras. Selain itu, ia juga melihat kebaruan, kemampuan untuk berkembang serta kepribadian setiap rekrutan baru yang akan dipantau selama masa percobaan. Menurut Arnault, bisnis Fashion PR sangat membutuhkan orang-orang yang fresh dan inovatif.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Sementara bagi Melvin, nilai dan prestasi akademis yang bagus hanya membuktikan bahwa seseorang memiliki displin yang tinggi di bidang akademis. Berdasarkan pengalamannya, tidak semua lulusan terbaik dapat bertahan di dunia Fashion PR. Padahal, Melvin menyederhanakan kriterianya hanya sebatas pada kemampuan berkomunikasi, baik secara verbal maupun tertulis. Seorang Fashion PR harus dapat berbicara dan menulis secara meyakinkan karena ‘merayu’, ‘membujuk’ dan ‘meyakinkan’ media serta konsumen adalah core business seorang Fashion PR.

Post your comments on Facebook