Bagi anda penggemar sitkom, sepertinya The Big Bang Theory bukanlah judul baru. Tahun ini adalah musim ke-10 serial komedi tersebut. Penggemar fanatiknya di seluruh dunia mulai bertanya-tanya apakah serial ini akan segera berakhir seperti sitcom fenomenal Friends yang hanya ‘kuat’ hingga musim ke-10 (1994-2004). Terlepas dari hal tersebut, The Big Bang Theory telah berhasil memberikan warna baru dalam dunia serial komedi.

Serial komedi ini menceritakan tentang persahabatan empat orang kutu buku, Sheldon Cooper (Jim Parsons), Leonard Hofstadter (Johnny Galecki), Howard Wollowitz (Simon Helberg) dan Rajesh Koothrapali (Kunal Nayyar). Mereka semua adalah jenius di masing-masing bidangnya, kecuali Howard yang seringkali diejek karena hanya bergelar Master sedangkan sisanya bergelar PhD. Kisah keempatnya diperkaya dengan kehadiran para wanita yang memiliki hubungan khusus dengan tiga di antara mereka. Para wanita tersebut adalah Penny (Kaley Cuoco) yang menikah dengan Leonard, Bernadette Rostenkowski (Melissa Rauch) yang menikah dengan Howard dan Amy Farrah Fowler (Mayim Bialik) yang berpacaran dengan Sheldon.

The Big Bang Theory mendeskripsikan karakter kutu buku secara nyata. Menurut Penny merupakan satu-satunya karakter non-ilmuwan yang mendefinisikan kelompok nerds dan kelompok ‘normal’ dalam serial ini. Penny adalah stereotipe perempuan populer dalam pergaulan sehari-hari dengan tampilan rambut pirangnya, dandanan yang seksi serta keacuhannya untuk hal-hal ilmiah. Uniknya, hubungan Leonard dan Penny yang berakhir di pernikahan justru mematahkan stereotipe bahwa kutu buku sulit untuk berhubungan dengan perempuan populer.

The Big Bang Theory cukup serius dalam produksinya. Mereka menyewa konsultan khusus untuk membantu proses penaskahan karena sebagian besar karakter utamanya berprofesi sebagai ilmuwan. Bahkan Mayim Bialik yang memerankan Amy pada kenyataannya memiliki gelar PhD di bidang Neuroscience.

Istilah nerd culture atau geek culture dan perdebatan mengenainya mulai menjadi tren semenjak The Big Bang Theory mengudara pada tahun 2007. Tidak sedikit film yang memotret kutu buku sebagai kelompok sosial yang selalu tertindas: di-bully, sulit mendapatkan pasangan, tidak memiliki teman dan lain-lain. Pengecualian untuk kutu buku yang merupakan anggota The Avengers seperti Tony Stark dan Peter Parker. Mereka memiliki kekuatan super untuk melindungi dirinya – bahkan dunia!

Produser dan penulis The Big Bang Theory, Chuck Lorre dan Bill Prady, menjelaskan bahwa serial ini terinspirasi dari masa muda mereka. Mereka mengenang masa-masa kuliah di mana mereka merupakan bagian dari kelompok kutu buku yang sulit bergaul dan berkomunikasi dalam komunitasnya.

Beberapa argumen kontradiksi justru bermunculan dari kalangan ilmuwan. Dalam beberapa artikel online, mereka menilai The Big Bang Theory hanya mengejek ‘keanehan’ para karakter kutu buku dalam bersosialisasi dan bukannya mensosialisasikan hal-hal atau temuan ilmiah di bidangnya. Argumen lain menjelaskan bahwa serial ini hanyalah promosi terhadap popular culture dengan mengeksploitasi ilmu-ilmu serius. Memang banyak sekali episode mengenai Star Wars, Star Trek, The Avengers, Justice League yang melibatkan guyonan ilmiah dalam menjelaskan kejadian di film-film tersebut.

Terlepas dari argumen-argumen yang ada, pada akhirnya The Big Bang Theory berhasil ‘memanusiakan’ kutu buku dan tidak sekedar menceritakan kekonyolan dan keanehan para kutu buku. Hal tersebut dapat dilihat dalam acara Comic Con pada panel The Big Bang Theory setiap tahunnya yang disesaki penggemar dari beragam kelompok sosial. Banyak penggemar (kutu buku) yang berterima kasih karena serial ini menginspirasikan kepercayaan diri menjadi nerd dalam pergaulan sehari-hari hingga penggemar dari kalangan non-ilmuwan yang terinspirasi untuk menyekolahkan anak-anaknya di bidang Fisika dan Biologi daripada bidang ‘pasaran’ seperti Ekonomi dan Manajemen.

Post your comments on Facebook