Hari ini merupakan peringatan International Women’s Day. Sejarah panjangnya yang dimulai sejak pertama kali dicetuskan pada tahun 1909 di Amerika Serikat, kini International Women’s Day menjadi momentum penting bagi gerakan dan kaum wanita sedunia. International Women’s Day pada awalnya merupakan media menyuarakan aspirasi di bidang pekerjaan dan hak untuk memilih. Kini isunya semakin meluas ke banyak hal mencakup hak reproduksi, kekerasan dalam rumah tangga hingga rasisme.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Meskipun diperingati pada hari ini, beberapa komunitas dan pergerakan wanita di Indonesia telah melaksanakan pawai dan aksi sejak akhir pekan lalu. Pada hari Sabtu lalu, aksi yang dinamakan Women’s March Jakarta 2018 dimulai di kawasan Jl. M.H. Thamrin hingga Taman Aspirasi di kawasan Monas. Aksi tersebut menyuarakan beberapa tuntutan kepada Pemerintah seperti menghapus kebijakan diskriminatif, menjamin akses keadilan dan pemulihan untuk korban kekerasan, menuntaskan kasus-kasus kekerasan berbasis gender dan lain-lain. Sebagaimana dikutip dari catatan tahunan Komnas Perempuan bahwa pada tahun 2017 terdapat 173 kasus pembunuhan wanita di mana 95 persen pelakunya adalah pria.

Kemudian pada hari Minggu lalu, aksi memperingati International Women’s Day dilaksanakan di Bandung dengan nama Women’s March Bandung. Rute aksi jalan bersama yang dilakukan berbagai komunitas dan gerakan wanita di Bandung dan sekitarnya dimulai dari kawasan Dago hingga Gedug Sate. Mengusung aspirasi yang hampir serupa dengan aksi sehari sebelumnya di Jakarta, Women’s March Bandung menyertakan tuntutan agar Pemerintah menyediakan akses perlindungan dan pemulihan korban kejahatan seksual, cuti haid dan perlindungan buruh migran.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Belum selesai di akhir pekan, kaum wanita di Malang, Jawa Timur, turut mengadakan Women’s March pada hari Senin lalu. Ratusan peserta yang berasal dari beragam komunitas menggelar aksi long march dari kawasan Taman Trunojoyo hingga Balai Kota. Aksi Women’s March 2018 di Malang menyorot kebijakan lokal yaitu Peraturan Daerah (Perda) Kota Malang Nomor 12 Tahun 2015 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan. Para peserta aksi menilai Perda tersebut belum terimplementasi dengan baik.

Sebagaimana kita ketahui, tahun ini hingga tahun depan merupakan tahun politik. Melalui aksi-aksi Women’s March yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah bagi Pemerintah untuk membenahi kebijakan-kebijakan yang mengatur dan menjamin hak-hak kaum wanita secara adil dan konsisten. Dalam ajang pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun ini, diketahui hanya terdapat dua calon gubernur wanita, yaitu Khofifah Indar Parawansa calon gubernur Jawa Timur dan Karolin Margret Natasa calon gubernur Kalimantan Barat. Dengan kata lain, peran serta wanita di politik daerah secara kuantitas masih sangat kecil. Di sisi yang lain, juga terdapat beberapa kepala daerah dan pejabat pemerintah wanita yang tertangkap dalam kasus korupsi. Artinya pergerakan wanita Indonesia juga perlu terus dikonsolidasikan untuk memantapkan posisi wanita di pemerintah.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Sementara di dunia, International Women’s Day hari ini diperingati secara masif hingga mengundang beberapa kepala negara untuk turut bersuara. Perdana Menteri India Narendra Modi melalui akun twitter-nya mendorong agar generasi muda menulis tentang kisah wanita yang menginspirasi mereka dengan tagar #SheInspiresMe. Di Selandia Baru, Gubernur Jenderal Dame Patsy mengungkapkan bahwa masih terdapat masalah bagi kaum wanita di bidang pekerjaan dan industrial. Perdana Menteri New Zealand Jacinda Ardern juga turut angkat bicara mengenai International Women’s Day 2018 melalui rilis video-nya via Twitter. Bagi Jacinda, salah satu tema yang penting untuk diangkat tahun ini adalah “Press for Progress”, di mana publik saat ini sangat membutuhkan media dan pers yang adil dan berimbang khususnya dalam memberitakan isu-isu kewanitaan.

Post your comments on Facebook