Hari ini, 10 Juni, merupakan Hari Media Sosial di Indonesia yang sejak tahun 2015 diinisiasi oleh Handi Irawan D. Ia merupakan seorang konsultan sekaligus pembicara berbasis content & knowledge. Pada tahun 2013 hingga 2017, Handi pernah dipercaya memimpin AMA-Indonesia, sebuah organisasi manajemen terbesar di Indonesia. Meskipun pada awal kemunculannya di akhir tahun ’90-an media sosial hanya merupakan sebuah platform komunikasi, kini dalam perkembangannya media sosial semakin relevan dan menjadi kebutuhan dalam bidang ekonomi dan politik.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Sayangnya, layaknya komoditas ekonomi lainnya, media sosial dapat menjadi korup dan merusak apabila disalahgunakan. Fenomena berita palsu (hoax) merupakan salah satu implementasi media sosial yang korup. Pemerintah dalam hal ini telah menyediakan peraturan hukum yang jelas melalui Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tentang hal-hal yang melanggar hukum di ranah media sosial. Namun, pada tataran praktiknya, kita sebagai pengguna perlu memahami dan mengaplikasikannya sekaligus berperan aktif mengedukasi, khususnya bagi pengguna di bawah umur.

Dalam ranah politik, media sosial juga terbukti menjadi platform terefektif dan terefisien dalam menjaring pemilih untuk mengkonsolidasikan suara terbanyak atau bahkan sebaliknya, memecah belah suara. Hal tersebut masih berhubungan dengan implementasi metode penyebaran hoax di media sosial untuk menggiring opini tertentu. Salah satu kendala terbesar dalam hal tersebut adalah sulitnya memverifikasi sumber berita yang dibagikan (share), terlebih apabila pembacanya memiliki bias politik tertentu sehingga dengan sangat mudah mempercayainya dan kemudian membagikannya secara berantai.

Lisa Nakamura, dalam bukunya Cybertypes: Race, Ethnicity and Identity on the Internet (2002), mengungkapkan bahwa pada awal kemunculannya, internet merupakan sebuah ruang (space) baru, baik dari segi publik maupun privat. Lisa kemudian menamakannya cyberspace. Sebagaimana kebaruan lainnya, cyberspace menjadi tempat yang penuh harapan dan pemenuhan cita-cita. Namun, perlu disadari dan dipahami bahwa internet merupakan ruang yang dibangun (constructed), bukan sebuah ruang keniscayaan. Salah satu kesimpulan Lisa dalam bukunya adalah bahwa internet merupakan komoditas advertising yang secara alami menyediakan citra-citra (images) ideal atas pandangan dunia. Pada poin tersebut, kita perlu juga memahami bahwa pada dasarnya kita adalah konsumen media sosial. Dan, sebagai konsumen, kita harus pintar dalam memilih, ‘membeli’ serta menggunakannya.

Post your comments on Facebook