Siapa yang tidak mengenal Reog? Pertunjukan seni tari yang berasal dari Ponorogo ini sepertinya sudah dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia.

Pertunjukan Reog memang selalu menyita perhatian orang-orang karena tariannya yang sangat amat lincah. Ditambah lagi dengan penampilan Warok atau topeng yang besar, menjadikan ikon dari penampilan Reog tersebut.

Berbicara tentang reog, Anda pasti terpikirkan dengan Reog Tradisional atau yang biasa disebut dengan Reog Festivalan. Hal tersebut dikarenakan Reog Festivalan atau Reog Kawak biasanya digelar setahun sekali menjelang bulan suro, hari besar nasional, acara bersih desa, kemerdekaan RI, hari jadi Kabupaten Ponorogo, penyambutan tamu-tamu negara dan kegiatan sosial masyarakat lainnya.

Keterbatasan frekuensi pertunjukan, membuat para seniman Reog merasa dibatasi dalam berkarya. Sehingga para seniman membuat inovasi, dan lahirlah Reog Obyok atau Obyokan pada kisaran tahun 1984 di Ponorogo yang diprakarsai oleh tokoh seniman Reog yaitu bapak Upal. Inovasi tersebut berkembang dan dikembangkan sendiri oleh masyarakat setempat khususnya pedesaan di Ponorogo sebagai alternatif hiburan para warga. Walaupun telah berkembang di lingkungan masyarakat Ponorogo, masih ada beberapa masyarakat desa dan kita lain yang belum mengenal kesenian ini.

Jika Reog Tradisional dalam pementasannya berada di atas panggung, namun tidak bagi Reog Obyok. Dalam pementasannya, Reog Obyok justru dilakukan di jalan. Musik pengiring dalam pementasan Reog ini lebih bebas. Banyak mengadopsi lagu daerah bahkan dalam prakteknya, juga dicampur dengan musik dangdut dan alunan alat musik tradisional khas Reog. Dari iringan musik ini pula, banyak orang yang menganggap asal mulanya nama Reog Obyok. Istilah Obyok berasal dari kata “byok-byok” sebuah istilah khas Ponorogo yang diucapkan berulang kali, sehingga menimbulkan arti kacau, “pecah”, atau meriah seperti yang terjadi pada Reog Obyok.

Perbedaan utama dari Reog Tradisional dengan Reog Obyok adalah, selain terletak pada frekuensi pagelarannya, dan dari perubahan formasi pemainnya. Iringan music, dan tempat pertunjukan juga membedakan dari Reog Trasdisional dan Reog Obyok. Pada Reog Tradisional terdiri dari formasi yang lengkap (Jathil, Bujang Ganong, Warok, Dadak Merak, dan Klono Sewandono), lain halnya dengan Reog Obyok. Dan pada Reog Obyok, formasi hanya terdiri dari Jathil, Dadak Merak, dan Bujang Ganong. Dengan formasi lebih sederhana ini, diharapkan para seniman Reog dapat lebih banyak mendapat tanggapan pentas dari orang yang mempunyai acara seperti, pernikaham, khitanan, syukuran, dan yang lainnya.

Dibawah ini merupakan sedikit penjelasan tentang Jathil, Bujang Ganong, dan Dadak Merak

1. Jathil

Sudah Mengenal dengan Reog Obyok Khas Ponorogo?
Jathil pada Reog Obyok

Para penari jathil pada Reog Tradisional, biasanya dimainkan oleh kaum pria dengan memainkan adegan loncat-loncat dengan kuda kepang, perang-perangan, sampai aksi heroic, tetapi berbeda halnya dengan Reog Obyok. Biasanya penari jathil dimainkan oleh para gadis dengan gerakan lemah gemulai tanpa membawa kuda kepang dan mereka akan menari sesuai dengan music yang dimainkan. Contohnya, music jaipongan, mereka akan memainkan gerak tari jaipong. Hal tersebut yang menjadikan daya tarik tersendiri dari Reog Obyok.

2. Bujang Ganong

Sudah Mengenal dengan Reog Obyok Khas Ponorogo?
Bujang Ganong pada Reog Obyok

Peran bujang ganong dalam Reog Obyok, biasanya dimainkan oleh anak-anak dan tidak selalu ada dalam setiap pagelaran. Peran Bujang Ganong pada pementasan Reog Tradisonal adalah seorang Patih dari Prabu Klono Sewandono yang dipercaya untuk melamr Dewi Songgolangit ke Kediri. Ada juga yang menceritakan bahwa perannya sebagai kritikus bagi Raja Bre Kertabumi saat memimpin kerajaan yang jenaka, dan lebih banyak menampilkan tarian khas bujang ganong yang menghibur penonton khususnya anak-anak.

3. Dadak Merak

Sudah Mengenal dengan Reog Obyok Khas Ponorogo?
Dadak Merak di Reog Obyok

Dadak Merak atau Barongan merupakan ikon utama Reog. Sehingga, menurut para seniman Reog, peran Dadak Merak harus tetap dipentaskan dalam Reog Obyok. Jika selama ini kita tahu, bahwa dadak merak adalah sebuah simbol yang berisi kritikan bagi Raja Bre Kertabumi yang gaya kepemimpinannya didikte oleh Permaisurinya, serta versi lain menyebutkan bahwa barongan merupakan dua binatang yang satu tubuh (harimau dan burung merak) sebagai persyaratan Dewi Songgolangit untuk menerima lamaran dari Prabu Klono Sewandono. Namun, pada Reog Obyok peran Dadak Merak adalah sebagai simbol kekuatan. Hal ini mengingat para pembarong yang memainkan bagian ini, memerlukan latihan rutin agar dapat memainkan dadak merak dengan cara menggigit.

Para seniman juga berharap bahwa dengan formasi yang demikian sederhana, dapat menjadi daya tarik untuk anak muda yang ingin belajar kesenian Reog. Mari kita lestarikan seni dan budaya yang merupakan ciri khas asli Indonesia.

Post your comments on Facebook