Majalah TIME pada edisi 20 April 2018 kembali merilis daftar “100 Most Influential People”. Daftar tersebut berisikan 100 orang yang berpengaruh dari seluruh dunia. Dua presiden Indonesia pernah masuk dalam daftar tersebut, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009 dan Joko Widodo pada tahun 2015. Tahun ini, tokoh Indonesia yang tercatat sebagai salah satu sosok berpengaruh versi majalah TIME adalah Sinta Nuriyah, istri presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sinta merupakan satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar “100 Most Influential People” tahun ini.

Culture | Profile
Foto: Ist

Pada akhir bulan lalu (28/03), TIME membuka polling bagi pembaca untuk turut menentukan 100 tokoh paling berpengaruh dari seluruh dunia. TIME sebelumnya telah menyiapkan beberapa sosok pilihan dari beragam latar belakang sosial dan politik. Beberapa di antara mereka adalah Presiden Rusia Vladimir Putin, Meghan Markle hingga kelompok aktivis bernama “Dreamers” yang memperjuangkan isu imigrasi dan mengadvokasi pembatasan senjata api di Amerika Serikat. Dalam daftar “100 Most Influential People”, Sinta Nuriyah masuk dalam kategori “Icons”. Uniknya, dalam kategori tersebut, Sinta bersanding dengan para artis wanita populer seperti Rihanna, Jennifer Lopez, Kesha dan banyak lainnya.

Mona Eltahawy, seorang jurnalis asal Mesir yang mengulas profil Sinta dalam daftar “100 Most Influential People”, mengemukakan bahwa Sinta merupakan sosok penting dalam dunia Islam beserta isu-isunya yang kompleks. Mona menggambarkan sosok Sinta sebagai seorang feminis muslim yang sangat memerhatikan keberagaman di Indonesia. Dalam wawancaranya dengan Mona, Sinta mengibaratkan keberagaman agama di Indonesia layaknya sebuah taman bunga. Semua bunga di taman sangatlah indah dalam konteksnya masing-masing. Tidak ada yang bisa memaksa mawar menjadi anggrek ataupun sebaliknya.

Beberapa tahun belakangan, Indonesia (khususnya DKI Jakarta) menyaksikan betapa sulitnya memelihara taman bunga yang diumpamakan Sinta hanya karena politisasi agama. Dalam ulasannya, Mona mengungkapkan bahwa Sinta merupakan tokoh yang paling konsisten dalam upayanya untuk memelihara keragaman dan persatuan bangsa. Sinta telah berkontribusi secara nyata dalam mengadvokasi isu-isu tersebut, mulai dari mengadvokasi kaum transgender hingga turut mendukung mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), yang sekarang dipenjara akibat dakwaan menista agama Islam.

Culture | Profile
Foto: Ist

Sinta memiliki gelar di bidang hukum syari’at dan kajian wanita. Latar edukasinya tersebut sangat memungkinkan Sinta untuk memiliki perspektif yang luas dalam bidang sosial-politik dan kemanusiaan. Mona yang juga penulis buku Headscarves and Hymens: Why the Middle East Needs a Sexual Revolution (2015) mengungkapkan bahwa kaum muslimah cenderung menjadi objek pembicaraan dan perdebatan tanpa akhir. Bagi Mona, Ibu Sinta Nuriyah merupakan sosok muslimah yang menolak diobjektifikasi. Beliau lebih memilih membela yang lemah daripada hidup tenang sebagai istri almarhum mantan presiden Indonesia.

Post your comments on Facebook