Dalam memperingati Hari Pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November, Indonesia selalu mengenang jasa para Pahlawan yang sudah bersusah payah memerdekakan negara Indonesia.

Dalam artikel sebelumnya Wanita.me sudah membahas 10 Pahlawan Nasional Wanita yang telah berjuang memerdekakan Indonesia pada zaman Proklamasi lalu. Dari 10 Pahlawan Nasional Wanita tersebut terdapat nama R.A Kartini yang menjadi tokoh pejuang perempuan Indonesia. Bagaimana dengan tokoh perempuan pejuang masa kini? Siapa kira-kira tokoh pejuang perempuan yang kamu kagumi zaman ini?

Sekarang mari kita bahas tokoh-tokoh pergerakan perempuan Indonesia masa kini. Sama halnya dengan R.A Kartini, pergerakan yang mereka perjuangan lahir dari kesadaran diri atas lingkungan sosialnya. Dengan ilmu yang dimiliki, para perempuan Indonesia ini mencoba membawa perubahan positif untuk masyarakat di sekitarnya.

1. S.K Trimurti

pejuang perempuan masa kini | Profile
Foto: Ist

Untuk anak kuliahan yang mengambil jurusan sosial, mungkin akan lebih familiar dengan namanya. Soerarti Karma Trimurti dikenal sebagai jurnalis, aktivis, sekaligus Menteri Tenaga Kerja Indonesia pertama pada tahun 1947-1948 di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Amir Sjariffudin. Setelah kemerdekaan, yakni pada tahun 1956, beliau memimpin Gerakan Wanita Sedar (Gerwis). Ia juga pernah diutus oleh Dewan Perancang Nasional (sekarang Bappenas) ke Yugoslivia untuk mempelajari manajemen pekerja. Nama S.K Trimurti juga melegenda dalam dunia jurnalisme Indonesia, beliau merupakan wartawan senior yang hidup di tiga zaman (penjajahan Belanda, Kependudukan Jepang, dan Pasca Kemerdekaan). Karena idealisme dan karya jurnalistiknya, Presiden Soekarno menganugerahkan penghargaan Bintang Mahaputra Tingkat V kepadanya.

2. Tri Mumpuni

pejuang perempuan masa kini | Profile
Foto: Ist

Tri Mumpuni dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan kemandirian masyarakat di kawasan terpencil melalui pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH). Ia bersama dengan suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji biasa berkeliling ke desa-desa yang jauh dari akses infrastruktur dan informasi, untuk membangun pembangkit listrik. Setelah melakukan pembicaraan dan diskusi dengan kepala desa, tokoh agama atau tokoh adat setempat, Tri Mumpuni mengumpulkan data untuk melihat kemungkinannya secara teknis pembangunan, menghitung dan mencari dana pembangunan. Bersama IBEKA (Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), mereka mendekati masyarakat untuk membuat komunitas dan menjalin hubungan baik. Lalu, masyarakat akan diberi pengetahuan tentang pengoperasian mesin dan perawatannya. Tri Mumpuni berusaha agar pembangunan yang dilakukan tidak menebang hutan atau vegetasi. Berkat usahanya tersebut, Ia dianugerahi penghargaan Ashden Awards 2012.

3. Butet Manurung

pejuang perempuan masa kini | Profile
Foto: Ist

Nama lengkapnya Saur Marlinang Manurung. Kamu mungkin juga sudah familiar dengan perempuan hebat satu ini, karena beberapa kali jadi bintang tamu di acara televisi. Perempuan lulusan Sastra Indonesia dan Antropologi Universitas Padjadjaran, Bandung ini mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di suku pedalaman Jambi. Butet merasakan ketidakberdayaan masyarakat suku Jambi yang tidak bisa membaca dan menulis, sehingga sering ditipu dan dimanfaatkan ‘Orang Terang’. Sebutan ‘Orang Terang’ diberikan Orang Rimba untuk menunjuk orang di luar komunitas mereka. Sejak tahun 1999, Butet terjun ke pedalaman untuk mengajar Anak Dalam dan Suku Kubu. Ia sempat ditolak karena menurut Orang Rimba, pendidikan adalah budaya luar bukan budaya Orang Rimba. Hingga akhirnya, ia diterima dan dipanggil Bu Guru oleh Orang Rimba. Berkat usahanya tersebut, Butet dianugerahi berbagai penghargaan internasional maupun nasional, salah satunya adalah Heroes of Asia Award 2004 dari majalah TIME.

4. Aleta Baun

pejuang perempuan masa kini | Profile
Foto: Ist

Lahir dan besar di Mollo, Nusa Tenggara Timur, membuat Mama Aleta merasa kewajiban mempertahankan tanah leluhurnya dan membangun solidaritas, ada di dirinya. Kegigihan dan keteguhannya tersebut juga mengantarkannya pada penghargaan lingkungan hidup Goldman Environmental Prize 2013. Perjuangan Mama Aleta selama 11 tahun untuk menghentikan pengoperasian tambang batu dan industri kehutanan, akhirnya berhasil dengan dihentikannya kegiatan menambang di Gunung Anjaf. Perjuangan dimulai dari tanggal 1990, ketika Gunung Anjaf dan Nausuf mulai dikeruk dan ditambang. Bagi orang Timor, tambang tersebut merusak batu nama, di mana orang-orang Timor menulis marga-marga mereka di sana, menghilangkan batu sama artinya dengan menghilangkan identitas Orang Timor. Selain itu, jika tambang terus dilakukan, sumber mata air akan hilang. Suku Mollo bergantung hidup dari sumber mata air yang mengairi pertanian dan hutan sebagai sumber pangan.

5. Linda Christanty

pejuang perempuan masa kini | Profile
Foto: Ist

BBC Indonesia menjuluki penulis sekaligus jurnalis satu ini sebagai ‘Penutur Kesedihan’. Linda memang kerap mengangkat cerita, baik fiksi atau non-fiksi, dengan mengungkap kejadian kelam. Sebagian besar karya Linda mengangkat permasalahan kemanusiaan, terutama kaum perempuan yang mengalami ketidakadilan, anak-anak yang dilecehkan, serta kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Dengan gaya bertutur yang khas serta tema yang diangkat, Linda sering diganjar berbagai penghargaan internasional maupun nasional, salah satunya adalah penghargaan Southeast Asian Writer Award 2013. Karya-karya Linda yang bisa kamu baca adalah Seekor Burung Kecil Biru di Naha; Konflik, Tragedi, Rekonsiliasi (2015), Rahasia Selma (2010), Seekor Anjing Mati di Bala Murghab (2013).

Post your comments on Facebook