Tahukah anda bahwa industri fashion merupakan salah satu industri yang tidak ramah lingkungan? Dua nama besar di dunia fashion, Stella McCartney dan Lily Cole, menyuarakan betapa dibutuhkannya metode dan proses produksi fashion yang berkelanjutan (sustainable) dan ramah lingkungan. Dalam perhelatan Copenhagen Fashion Summit, Stella mengungkapkan bahwa hanya 1 persen produk fashion di planet ini yang didaur-ulang. Baginya, hal tersebut bukan hal yang baik, bahkan menjadi pertanda buruk bagi kelangsungan industri fashion di masa yang akan datang.

Fashion | Designer
Foto: Ist

Dilansir dari Vogue (19/05), Stella mengungkapkan bahwa sejak awal karirnya ia berjanji tidak akan membunuh hewan atas nama fashion. Meskipun sempat ditawari beberapa kesempatan dan uang yang besar, Stella tidak bergeming dan tidak pernah mengerjakan rancangan berbahan bulu dan kulit. Pilihan idealisme tersebut menyebabkannya kehilangan pekerjaan di Saint Laurent era Tom Ford. Selain itu, Stella juga tidak pernah menggunakan lem dalam setiap rancangannya. Ia menuturkan bahwa lem memiliki kandungan dasar tulang ikan dan bagian kecil dari hewan lainnya.

Hal lain yang dilakukan Stella untuk membangun industri fashion berkelanjutan adalah dengen berhenti menggunakan PVC. Ketika bekerjasama dengan Adidas, Stella mendapatkan informasi dari mereka bahwa PVC merupakan bahan kimia yang beresiko menyebabkan kanker bagi pegawai yang terekspos secara langsung terhadapnya. Di acara Copenhagen Fashion Summit, Stella mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa industri fashion berkontribusi atas penebangan 150 juta pohon per-tahun. Ia pun mengungkapkan alasannya mengapa ia menggunakan bahan alternatif bernama viscose. Stella kemudian meminta para peserta untuk mengacungkan tangan apabila ada yang mengetahui apa itu viscose. Hanya sedikit yang mengacungkan tangan dan Stella kemudian bertutur bahwa menjalankan bisnis sustainable fashion adalah ‘tempat yang sepi’ dari teman dan memiliki banyak batasan.

Fashion | Designer
Foto: Ist

Sependapat dengan Stella, Lily Cole mengungkapkan bahwa meskipun para perancang yang mendukung gerakan sustainable fashion memiliki ide yang sempurna, seringkali perusahaan yang bekerjasama tidak mendukung ide tersebut. Menurut Lily, hal tersebut sangat wajar apabila dilihat dari kacamata marketing karena proses penyediaannya yang memang sangat rumit dan tidak transparan. Sebagai contoh, coba lihat satu setel pakaian anda, umumnya kain katun berasal dari India yang dijahit di Bangladesh dan dilengkapi dengan retsleting dari Italia. Bagi Lily, pada akhirnya para produsen dan pelaku bisnis fashion perlu mengedepankan transparansi kepada konsumennya agar ide industri rancang busana berkelanjutan dapat menjadi tren.

Post your comments on Facebook