Banyak orang menganggap bahwa partisipasi angkatan kerja perempuan berdampak negatif pada angka kelahiran. Di tingkat mikro, wanita kerap dianggap harus memilih antara menjadi seorang full-time mother atau full-time career woman. Adalah benar pada banyak negara, semakin tinggi partisipasi angkatan kerja perempuan, semakin rendah angka kelahiran. Benarkah partisipasi angkatan kerja perempuan berdampak negatif pada angka kelahiran?


Di banyak negara Eropa, ‘pengarustamaan gender’ menyentuh banyak aspek kehidupan perempuan seperti peranan mereka dalam keluarga, angkatan kerja nasional, kesehatan dan pendidikan. Pengarustamaan gender diadopsi didalam Undang-undang, kebijakan dan program-program pembangunan sebagai solusi untuk mentransformasi negara mereka menuju negara yang berkesetaraan gender, angka kelahiran yang tetap tinggi, dan masyarakat yang mampu membesarkan generasi muda dengan baik.


Di sebagian besar negara Eropa, angka kelahiran dan partisipasi perempuan kerap dianggap sebagai dua variabel yang berbenturan. Negara-negara Eropa seperti Jerman, Spanyol dan Italia memiliki partisipasi angkatan kerja yang tinggi serta angka kelahiran yang sangat rendah. Di negara-negara ini, pilihan berkarir bagi perempuan yang terus meningkat beberapa dekade belakangan ini dianggap sebagai penyebab rendahnya minat perempuan menjadi seorang ibu. Anggapan kebanyakan orang bahwa dua variabel ini saling bertentangan ternyata dimentahkan oleh negara-negara Skandinavia seperti Swedia, Denmark dan Islandia.

Di negara-negara ini, ‘pengarustamaan gender’ telah berhasil merekonsiliasi dua variabel yang selama berdekade-dekade lamanya dianggap saling bertentangan, yaitu angka kelahiran dan karir perempuan. Salah satu bagian terpenting dari pengarustamaan gender adalah family policy atau kebijakan keluarga. Tulisan ini mengulas perbedaan kebijakan keluarga dan implikasinya terhadap partisipasi perempuan pada tenaga kerja dan angka kelahiran di Swedia dan Jerman.

Culture | Opinion
Foto : Ist

Family Policy Models (Model Kebijakan Keluarga)

Kebijakan keluarga terus berkembang disetiap negara menyesuaikan dengan dinamika kebutuhan tiap-tiap jaman. Setiap negara memiliki kebijakan keluarga yang berbeda-beda untuk tujuan dan prioritas yang berbeda. Dibawah ini adalah grafik kebijakan keluarga yang secara umum diterapkan dinegara-negara Eropa:

Culture | Opinian
Foto : Ist

Grafik diatas menggambarkan empat tipe kebijakan keluarga yang diterapkan oleh negara-negara Eropa. Axis horizontal menunjukkan tingkat kecenderungan kebijakan yang membuka ruang bagi suami dan istri untuk bekerja, serta keduanya juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sedangkan axis vertikal menunjukkan tingkat kecenderungan kebijakan keluarga dimana suami bekerja, istri mengurus pekerjaan rumah tangga, Secara umum, kebijakan keluarga berorientasi traditional family memiliki kecenderungan dual earner yang rendah dan juga sebaliknya. Ukuran lingkar pada pengkodean tiap negara menggambarkan besaran dana yang dikucurkan untuk kebijakan keluarga dimasing-masing negara.

Dual earner model pada kotak kanan bawah adalah kebijakan yang mendukung suami dan istri bekerja, sebagai kontras dari traditional family pada kotak kiri atas dimana suami bekerja, istri mengurus pekerjaan rumah tangga. Contoh dari negara-negara yang menggunakan kebijakan keluarga dual earner adalah Finlandia, Swedia dan Denmark, sedangkan kebijakan keluarga mode traditional family diterapkan di Jerman, Italia dan Austria. Pada kiri bawah, model kebijakan keluarga market oriented adalah kebijakan keluarga yang ditentukan oleh pasar, diterapkan di Amerika Serikat dan Inggris Raya.

Walaupun terdapat perbedaan-perbedaan mendasar antara model-model kebijakan keluarga seperti disebut diatas, tidak ada satu negara pun yang menerapkan satu model secara murni. Kita dapat mengidentifikasi kecenderungan tipe dari pengarustamaan kebijakan keluarga tiap-tiap negara di Eropa melalui beberapa variabel kebijakan, seperti cuti melahirkan, insentif anak.

 

Cuti Melahirkan

Di Swedia, cuti melahirkan diberikan kepada ibu yang melahirkan dan ayah dari anak masing-masing selama 13 bulan. Mereka tetap menerima 80% gaji selama cuti. Ayah dari anak diwajibkan mengambil setidaknya dua bulan cuti dari 13 bulan yang diberikan. Tiga ratus ribu rupiah per hari diberikan kepada ayah/ibu yang tidak bekerja selama masa 13 bulan ini diluar penyediaan kebutuhan dasar yang diberikan oleh pemerintah. Pemerintah Swedia juga menyediakan 4,7 juta rupiah sebulan untuk tiap-tiap orang tua sebagai homecare allowance agar orang tua dapat menghabiskan waktu dirumah bersama anaknya.

Sebagai perbandingan, di Jerman, cuti melahirkan diberikan kepada orang tua anak selama 14 bulan, dimana dua dari 14 bulan tersebut diberikan kepada ayah. Mereka yang cuti hanya menerima 67% dari gaji dengan jumlah tertentu. Jerman tidak memberikan insentif bagi orang tua yang merawat anak dirumah. Dalam kasus kelahiran ke delapan, pelaku cuti melahirkan hanya menerima separuh dari gaji dan itu hanya berlaku selama dua bulan pertama sebelum mereka benar-benar tidak menerima gaji selama cuti.

Culture | Opinion
Foto : Ist

Insentif Anak

Pemerintah Swedia memberikan sejumlah uang untuk setiap anak berusia 0-16 tahun. Tujuh belas setengah juta rupiah diberikan per tahun untuk masing-masing anak pertama dan kedua, sedangkan 22 juta rupiah diberikan untuk anak ketiga per tahun, 32 juta rupiah per tahun diberikan kepada anak keempat dan 35 juta rupiah per tahun diberikan kepada anak kelima. Insentif anak tetap diberikan sampai anak berusia 19 tahun apabila anak tersebut masih bersekolah.

Pemerintah Jerman menyediakan sejumlah uang untuk setiap anak usia 0-18 tahun. Dua puluh Sembilan juta per tahun diberikan kepada masing-masing  anak pertama sampai ketiga dan 34 juta per tahun diberikan kepada anak keempat. Insentif ini tetap diberikan sampai anak berusia 25 tahun apabila anak tersebut masih bersekolah.

 

Daycare Umum

Day care merupakan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini (PAUD). Di Swedia, daycare sudah disediakan untuk anak berusia 1,5 tahun. Orang tua hanya diwajibkan membayar daycare sebanyak 3% dari penghasilan untuk anak pertama, 2% dari penghasilan untuk anak kedua dan 1% untuk anak ketiga. Untuk anak keemat dan seterusnya, tidak ada kewajiban membayar bagi orang tua untuk pelayanan daycare.

Jerman tidak memberikan subsidi daycare dalam skala nasional. Kalaupun ada, nominal subsidi sangat kecil. Daycare di jerman juga kebanyakan bersifat paruh waktu, tidak seperti di Swedia. Daycare di Jerman dikelompokkan menjadi dua, yakni daycare untuk anak usia 0-3 tahun dan daycare untuk anak usia 3-6 tahun.Sayangnya, daycare umum di Jerman tidak tersebar luas dimana secara keseluruhan daycare untuk anak usia 0-3 tahun hanya terdapat pada kurang dari 40% wilayah negara, sedangkan daycare untuk anak usia 3-6 tahun tersebar di hamper 90% negara federal ini.

 

Subsidi Pernikahan

Subsidi pernikahan adalah subsidi untuk pasangan yang menikah berupa pengembalian pajak pendapatan apabila salah satu dari suami/istri tidak bekerja. Swedia tidak menyediakan subsidi pernikahan. Sebaliknya, Jerman memberikan subsidi pernikahan sebesar 14% lebih banyak daripada mereka yang tidak menikah.

 

Implikasi Kebijakan Keluarga pada Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan dan Angka Kelahiran

Perlu dicatat bahwa di kedua negara ini, partisipasi angkatan kerja perempuan mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari kebijakan, keluarga kedua negara yang proaktif memperkecil gender gap seperti dijelaskan diatas.  Akan tetapi, kebijakan-kebijakan berorientasi kesetaraan gender tersebut memiliki banyak perbedaan mendasar terutama pada kebijakan keluarga, antara Swedia dan Jerman dan implikasi yang berbeda pula bahkan pada partisipasi angkatan kerja perempuan, seperti diilustrasikan pada grafik dibawah.

Culture | Opinian
Foto : Ist

Jerman, dengan kebijakan yang mendukung format keluarga tradisional memiliki tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan yang lebih rendah dibandingkan Swedia (55% banding 69%. Apakah ini berarti Swedia memiliki angka kelahiran yang lebih rendah dari Jerman? Temuan dari berbagai penelitian justru menunjukkan hal sebaliknya. Pada sepuluh tahun belakangan, TFR Swedia berada pada hampir dua anak per satu perempuan, sedangkan Jerman memiliki TFR 1,3 anak per satu perempuan. Kebijakan keluarga model dual earner yang diterapkan di Swedia telah membuka ruang bagi para ibu untuk dapat bekerja dan membagi pekerjaan rumah tangga dengan pasangannya dengan dukungan berbagai insentif dan fasilitas dari pemerintah seperti daycare dan homecare allowance. Sedangkan di Jerman, kebijakan keluarga model traditional family tetap membuat perempuan harus memilih antara menjadi seorang ibu atau berkarir. Sebagian besar mereka yang memilih menjadi seorang ibu tidak bekerja dan sebagian besar perempuan yang bekerja, tidak memiliki anak atau hanya memiliki satu anak.

 

Narasumber : Dedek Prayudi, B.A, M.Sc.

Post your comments on Facebook