Pada bulan suci Ramadhan biasanya akan terjadi perubahan pola menonton TV pada masyarakat. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mendukung siaran Tayangan religi pada Ramadhan 2018 ini. Dukungan dan pemantauan dilakukan KPI untuk memastikan seluruh program siaran yang tayang sepanjang Ramadhan sesuai dengan tuntunan regulasi penyiaran. Sehingga dapat mendukung kekhusyuan beribadah masyarakat.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Nuning Rodiyah, selaku Komisioner KPI Pusat Bidang Pengawasan Isi Siaran mengatakan bahwa selama Ramadhan terjadi perubahan tingkat konsumsi masyarakat pada tontonan. Dan hal ini tentu saja berimbas pada belanja iklan di televisi. Perubahan preferensi pilihan tontonan serta perubahan jam menonton. Hal ini disampaikan pada saat jumpa pers di Gedung KPI Pusat, Jl Ir H Juanda, Jakarta Pusat, (2/5/2018).

Kenaikan yang paling tinggi tentang perubahan jam menonton yakni pada waktu sahur. Selain itu penonton dari kalangan anak-anak juga meningkat sepanjang Ramadhan. Untuk itu, KPI meminta kepada pengelola TV untuk memperhatikan beberapa poin penting berikut ini:

Pertama, mengutamakan prinsip perlindungan anak dan remaja pada setiap program siaran. Terutama tayangan yang hadir pada waktu menjelang sahur. Mengingat biasanya pada waktu tersebut masih masuk jam tayang dewasa.

Kedua, memasukkan nilai-nilai religius pada program hiburan dan serial di bulan Ramadhan. Sebab selama Ramadhan terjadi peningkatan konsumsi masyarakat terhadap tontonan televisi. Supaya tetap menjaga semangat beribadah dan sejalan dengan kesucian Ramadhan.

Ketiga, meningkatkan sensor internal pada program hiburan agar tidak sampai terjadi pelanggaran regulasi penyiaran.

Keempat, menambah durasi program religi dari yang sudah ada selama ini.

Seperti sudah menjadi kelaziman setiap bulan Ramadhan sejumlah stasiun TV seakan berlomba-lomba membuat dan menayangkan program-program unggulan keagamaan. Misalnya sinetron religi, ceramah agama, feature, talkshow serta hiburan komedi. Program-program tersebut mengisi sebagian atau hampir sepanjang Ramadhan. Bahkan beberapa stasiun TV tertentu sudah jauh-jauh hari menayangkan program religi.

Kita boleh berbangga dengan tayangan-tayangan bernuansa keagamaan itu. Setidaknya kreativitas para pengelola stasiun TV itu patut diapresiasi karena memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Terlepas dari muatan bisnis, siaran religi selama Ramadhan nyatanya memang menguntungkan. Terbukti hampir produsen terutama  makanan, minuman selalu antri untuk memasang iklan.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Selain menyatakan dukungannya terhadap stasiun TV yang menambah tayangan religi, KPI bersama MUI (Majelis Ulama Indonesia) akan memberikan reward bagi tayangan TV yang menampilkan program religi. Sebab pada tahun 2017 lalu 41% adalah tingkat konsumsi program hiburan, sementara untuk konsumsi religi hanya mencapai 4-5 % saja.

Sementara itu, Anggota Tim Pemantau Tayangan Ramadhan MUI, Elvi Hudriyah berharap pada bulan Ramadhan seluruh lembaga penyiaran Indonesia dapat menyuguhkan program tayangan yang edukatif dan inovatif. Sehingga nantinya akan menjadi trend center serta membawa pengaruh baik dan mendapat hidayah bagi yang menontonnya.

Post your comments on Facebook