Cuci otak atau brain washing ala Letkol CKM dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad  yang juga seorang Kepala Rumah sakit RSPAD, Jakarta, belakangan menjadi pembicaraan yang hangat di dunia maya. Pengobatan yang dilakukan oleh dr. Terawan dengan menggunakan Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk penderita stroke dan sumbatan darah di otak mencuat dan menjadi viral setelah IDI memberi sanksi terhadap dr. Terawan.

Health
Foto: Ist

Satu sisi, banyak pasien dr. Terawan yang mengklaim terapi ini sangat bermanfaat untuk membersihkan saluran-saluran darah di otak agar terhindar dari bahaya pada otak yang bisa saja sewaktu-waktu menyerang, seperti stroke. Ironisnya, kini temuan dr. Terawan ini mendapatkan apresiasi dari rumah sakit Krankenhaus Nordwest, di Jerman.

Lalu benarkah terapi cuci otak dengan metode DSA ala dr. Terawan ini bisa benar-benar menyembuhkan?

Sebenarnya metode DSA ini sudah dikenal sejak tahun 1982, demikian menurut Dr. Dr. Tauhid Nur Azhar, S.Ked, M.Kes Board of Honor Neuronesia Community dan dalam bahasa awamnya cuci otak. Prinsip dasarnya hampir sama dengan CT Scan, bedanya metode DSA diberi tinta radioaktif agar bisa dilihat sampai ke pembuluh darah yang kecil dalam otak. Dan kelebihan metode yang digunakan dr. Terawan ia menemukan sendiri dosis zat anti penggumpalan, zat peluruh heparin yang tepat serta menggunakan alat bantu yang saling bersinergi.

Tidak sedikit para pasien dr. Terawan yang berasal dari kalangan pejabat pemerintah dan kalangan artis. Sebab pekerjaan mereka memiliki resiko tinggi terhadap stress yang dapat memicu penyumbatan pada otak. Misalnya tulisan yang dibuat oleh Menteri BUMN, Dahlan Iskan dengan judul “ Membersihkan Gorong-Gorong Buntu di Otak”. Baru-baru ini Inggrid Kansil, seorang artis dan juga politisi pun turut menyatakan suka citanya atas manfaat dari terapi cuci otak bersama dr. Terawan.

Health
Foto: Ist

Namun metode cuci otak ala dr. Terawan ini tidak disambut baik oleh para ahli dokter saraf. Alasannya karena metode yang dipergunakan dr. Terawan dianggap tidak ada dalam istilah medis. Kementrian Kesehatan (Kemenkes) bahkan sempat mempertanyakan metode yang digunakan oleh dr. Terawan dalam menangani pasiennya.

Menurut Prof. Dr. Dr. Hasan Machfoed, SpS (K), MS yang juga merupakan Ketua Persatuan Dokter Saraf Seluruh Indonesia (Perdossi) sangat menentang terhadap apa yang dilakukan oleh dr. Terawan terkait dengan metode cuci otak yang digunakannya.

Lebih lanjut Prof. Hasan Machfoed menyatakan bahwa cuci otak/brain washing tersebut bukan tindakan terapi penyembuhan terhadap pasien apalagi tindakan prevensi, namun metode tersebut hanyalah bagian dari prosedur diagnosis saja.

Sementara tindakan prevensi supaya orang tidak mengalami stroke atau penyumbatan darah di otak adalah berikut ini, tidak merokok, berolah raga secara rutin, tidak meminum minuman beralkohol, menjaga berat badan secara proporsional, menghindari stress. Dengan kata lain tindakan pencegahan agar tidak terkena stroke ialah dengan cara menerapkan pola hidup sehat, bukan mengandalkan jenis obat tertentu dalam metode cuci otak ala dr. Terawan.

Health
Foto: Ist

Memang ada obat yang mampu menghancurkan pembekuan darah, nama jenisnya thrombolysis, yakni recombinant tissue plasminogen, activator (Rtpa) streptokinase dan urokinase. Obat ini menurut Ketua Perdossi, selain mampu menghancurkan pembekuan darah yang tersumbat namun ternyata sangat berbahaya hingga mampu merenggut nyawa seseorang.

Maka oleh sebab itu, dr. Terawan dianggap telah melanggar Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) yakni menyembunyikan fakta tentang metode pengobatan yang digunakan dr. Terawan dan ia tidak mau menjawab jenis obat yang telah digunakan dalam metode brain washing-nya yang waktu terapinya rata-rata berlangsung sekitar 8 menit.

Efek bahagia dan puas yang dirasa para pasien dr. Terawan termasuk yang dirasakan oleh Dahlan Iskan menurut Ketua Perdossi ini hanyalah merupakan efek placebo semata. Dimana ada rasa nyaman secara psikologis pada pasien, namun kenyataannya tidak menyembuhkan secara medis.

Health
Foto: Ist

Dari polemik diatas, tentu kita bisa menentukan sikap mana yang bisa dijadikan sandaran bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Post your comments on Facebook