Apakah benar menulis mampu menjadi terapi penyembuhan diri? Kita tentu masih ingat dengan kisah Mantan Presiden  Habibie ketika istri beliau, Ibu Ainun meninggal dunia? Sebuah media mengatakan bagaimana Pak Habibie begitu kehilangan sosok istrinya. Sehingga pada hari ke empat belas wafatnya sang istri, beliau masih belum sepenuhnya rela. Para ajudan masih melihat Pak Habibie memanggil istrinya saat bangun tidur.

Kemudian oleh dokter pribadi mereka, Pak Habibie dinyatakan sehat secara lahir namun harus mengikuti terapi. Jiwa beliau  menurut dokter saat itu masih terguncang akibat ditinggal sang istri tercinta. Dokter menyarankan Pak Habibie untuk menulis. Menuliskan semua isi hati beserta seluruh emosi yang masih tersimpan.

culture | opinion
Foto : Ist

Tak disangka, dalam waktu sekitar 2 minggu kurang lebih, beliau mampu menyelesaikan sebuah naskah yang belakangan di jadikan buku dan kemudian di angkat ke layar lebar.

Pada saat peluncuran buku Habibie & Ainun, raut muka beliau sudah cerah penuh semangat seperti sebelum kematian sang istri.

Apa yang terjadi?

Aktivitas menulis telah membantu menyembuhkan jiwanya yang sebelumnya di rundung kesedihan. Bahkan dengan senyum khasnya beliau mampu tertawa dan menjelaskan persoalan hatinya dengan gamblang tanpa ada rasa “berat”.

Terbukti, beliau mampu menggunakan terapi menulis sebagai self healing!

Lantas bagimana sebenarnya korelasi self healing dengan terapi menulis?

Ulasan berikut ini akan di jelaskan bagaimana keterkaitan antara penyembuhan diri sendiri dengan terapi menulis.

Seorang psikolog asal Universitas New South Wales, Keren Baikie mengatakan bahwa ketika kita menuliskan berbagai peristiwa yang penuh tekanan, emosi dan bersifat traumatis. Maka kesehatan fisik dan mental kita akan menjadi lebih baik dibandingkan ketika kita menuliskan topik yang netral.

Dalam beberapa percobaan yang dilakukan Keren terhadap beberapa partisipannya, mereka menuliskan peristiwa-peristiwa traumatis dalam waktu sekitar 15 menit sudah mampu meluapkan emosinya.

Seperti halnya kasus Pak Habibie diatas, bagaimana emosinya menjadi membaik setelah ia menuliskannya menjadi sebuah tulisan dan menumpahkan seluruh emosinya.

culture | opinion
Foto : Ist

Kasus keterkaitan antara terapi menulis dan self healing, adalah Marshanda seorang aktris cantik muda penuh talenta. Beberapa tahun lalu ia mengumumkan kepada publik bahwa ia mengalami gangguan Bipolar. Lalu pada tanggal 20 Mei 2017 ia muncul kembali dalam sebuah acara talkshow dan mengatakan ia telah sembuh, tanpa obat!

Ternyata rahasianya ialah ia rutin menulis setiap malam menjelang tidur.

Rupanya aktivitas menulis yang rutin ia lakukan telah mampu membawanya keluar dari masalah bahkan mampu memandang masalah tersebut dari luar. Serta yang yang lebih mengejutkan lagi, terapi menulis tersebut mampu membuat ia mengenali diri sendiri secara lebih baik.

Seperti halnya yang dilakukan oleh psikolog Pannebakker, seorang ahli Writing Therapy. Pada akhir tahun 1908-an ia membuat sebuah teori tentang terapi menulis bagi orang yang memiliki masalah gangguan emosi pada dirinya.

Teori Pannebaker nyaris sama dengan teori Keren. Dimana Panbekker menyuruh orang untuk menuliskan apa saja yang ada dalam hati dan pikiran kita. Lalu ia juga mengajak untuk lebih dalam menganalisa apa masalah yang telah berlalu dan bagaimana tentang masa depan kita.

Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan banyak orang yaitu bagaimana melakukan terapi menulis pada diri sendiri?

Jawabannya hanya dengan memulai menulis sebelum masalah yang pelik datang.

Aktivitas menulis telah terbukti pada banyak orang untuk membantu menyembuhan persoalan emosi pada diri sendiri, tanpa obat kimia yang memberi efek samping depresi.

Jadi, marilah kita semakin mencintai dunia menulis dengan membiasakan menulis hal yang sederhana. Seiring berjalannya waktu, kita akan mampu melihat perubahan pada diri terutama  pada memandang sebuah masalah dan mengungkapkan emosi.

Post your comments on Facebook