Culture | books
Foto : Ist

Nama Tere Liye di dunia perbukuan sudah sangat dikenal luas masyarakat karena karya-karyanya banyak menyoroti dan mengangkat kehidupan sehari. Novel-novelnya memiliki beragam kisah antara lain tentang kekuatan keluarga, perjuangan, cinta kasih, keadilan, kesabaran dan kejujuran. Salah satu karyanya yang diangkat ke layar lebar, Hafalan Shalat Delisa meraih berbagai penghargaan. Meskipun ia telah berhasil dalam dunia literasi Indonesia, pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan ini mengakui aktivitas menulis cerita hanyalah sekedar hobi sebab sehari-hari ia merupakan seorang pekerja kantoran sebagai akuntan.

Culture | books
Foto : Ist

Terlahir dengan nama asli Darwis, pria yang pernah menimba ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini telah melahirkan puluhan judul buku fiksi sejak tahun 2014 sampai sekarang.

Pada Hari Selasa, tanggal 5 September 2017, Tere Liye menyuarakan kekecewaannya tentang pajak bagi penulis yang dirasa terlalu tinggi dalam akun facebook-nya. Selain itu ia menuliskan pemerintah dianggap tidak peduli dan merespon keluhan masyarakat. Akibatnya penulis berusia 38 tahun itu memutus kerjasamanya dengan dua penerbit buku yaitu Gramedia Pustaka Utama dan Republika Penerbit per 31 Juli. Di laman Republika.com ditulis, Keputusan Tere Liye dalam Dunia Perbukuan Patut Ditangisi. Buku-bukunya hanya akan dijual sampai tanggal 31 Desember mendatang.

Culture | books
Foto : Ist

Menurut Tere Liye, penulis adalah profesi yang diakui di administrasi pajak sebagai pekerja bebas, maka boleh menghitung pajak dengan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Intinya penulis yang berpenghasilan kurang dari Rp.4,8 miliar boleh menggunakan sistem ini dan penghasilan netonya diakui sebesar 50%, baru dikurangi PTKP dan dikenai pajak sesuai tarif berlaku. Yang menjadi masalahnya ialah ada pada PPh Pasal 23 atas royalti penulis buku yang dipotong 15% atas jumlah bruto.

Dalam akun facebooknya, Tere Liye memutuskan akan menghentikan menerbitkan novel ciptaannya dalam bentuk buku. Maka 28 buku-buku novelnya tidak akan dicetak ulang lagi dan dibiarkan habis secara alamiah sampai akhir Desember 2017. Keluhan penulis produktif, Tere Liye ditanggapi oleh Sri Mulyani, Menteri Keuangan. Dari laman CNN, ditulis Sri Mulyani Perintahkan Ditjen Pajak Temui Tere Liye.

Culture | books
Foto : Ist

Bagi seorang Tere Liye, berhenti menulis buku bukan berarti serta merta berhenti menulis. Karena penulis itu pekerjaannya adalah menulis walaupun karya tidak lagi diterbitkan menjadi sebuah buku. Ia berjanji akan memosting naskah-naskah barunya secara online di dalam akun sosial medianya tanpa harus berurusan dengan pajak yang sangat tinggi.

Pamitnya Tere Liye dari dunia perbukuan merupakan teguran santun yang ‘menyengat’.

Post your comments on Facebook