Tersangka utama pelaku pembantaian sejumlah muslim di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru pada Jumat (15/3/2019) siang kemarin, Brenton Tarrant digambarkan sebagai ‘teroris ekstremis sayap kanan’ yang kejam. Kepolisian Selandia Baru mengungkap bahwa pria berkewarganegaraan Australia tersebut sempat mengunggah manifesto sepanjang 74 halaman sebelum serangan memilukan itu dilancarkan.

Adapun manifesto yang diunggah dalam akun pribadi Twitter Brenton yang kini telah dinonaktifkan tersebut merinci tentang pandangan soal supremasi kulit putih yang dianutnya.

1. Manifesto berjudul ‘The Great Replacement’ menyebut soal rencana serangan di Christchurch

Kepolisian Selandia Baru berhasil menemukan sebuah manifesto yang sempat diunggah di akun Twitter milik salah satu penyerang bernama Brenton Tarrant. Sesaat sebelum serangan penembakan itu terjadi, akun pribadi Brenton yang kini telah dihapus itu mengunggah tautan ke sebuah manifesto berjumlah 74 halaman yang berjudul ‘The Great Replacement’.

Christchurch
Foto: Heavy Editorial

Manifesto tanpa tanda tangan itu dipenuhi dengan ide-ide anti-Muslim, anti-Imigran, supremasi kulit putih, dan penjelasan lengkap tentang rencana penyerangan. Pihak kepolisian mengungkap, manifesto itu mengulangi poin-poin pembahasan umum ‘sayap kanan’. Manifesto itu juga mengutuk tentang upaya pembatasan senjata api di AS dan berjanji akan memulai perang ras di Amerika.

Brenton Tarrant mengaku melakukan penyerangan di masjid Christchurch, karena merasa harus membalas dendam kepada kaum Muslim atas apa yang terjadi di Eropa, terkait aksi terorisme yang dilakukan kelompok Islam radikal.

2. Selandia Baru jadi sasaran karena selama ini memiliki citra sebagai negara teraman

Brenton mengatakan dalam manifesto itu, bahwa ia telah merencanakan serangan selama dua tahun sebelum akhirnya pindah dari Australia ke Selandia Baru. Hal itu dilakukannya demi merencanakan dan melatih serangan itu secara matang. Meskipun sebenarnya bukan sasaran awal serangan, Brenton mengaku, Selandia Baru dipilih karena memiliki citra sebagai salah satu negara teraman di dunia.

Dalam pernyataannya, Brenton mengatakan dirinya hanya pria kulit putih biasa yang memutuskan mengambil tindakan demi keberlangsungan hidup kaumnya. Pernyataan tersebut merujuk kepada para korban serangan teror di Stockholm, Swedia dan ketegangan rasial di Balkan.

Christchurch
Foto: Sputnik International

3. Aksi ekstremis sayap kanan untuk menyebarkan pesan supremasi kulit putih

Menurut kabar yang beredar, ekstremis sayap kanan dinilai telah ‘bangkit’ dalam beberapa waktu terakhir. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Paul Spoonley, seorang profesor di Universitas Massey Selandia Baru sebagaimana dikutip dari www.nbcnews.com. meski begitu, menurut Paul, kelompok sayap kanan masih merupakan bagian kecil dari spektrum politik Selandia Baru.

Alih-alih hanya berfokus pada keluhan domestik, kaum nasionalis penganut supremasi kulit putih menyerap berbagai insiden terorisme di seluruh dunia sebagai tindakan stimulus untuk perjuangan mereka selama ini. Mereka mengutuk serangan terorisme sebelumnya dan mengutuk apa yang mereka nilai sebagai ketidakadilan.

Christchurch
Foto: Twitter/Matthew Keys Live

Ekstremisme kanan anti-imigran memiliki sejarah cukup panjang di Australia yang selama beberapa tahun terakhir fokus mereka telah bergeser ke Muslim. Hal itu disampaikan oleh Mark Briskey, dosen senior bidang kriminologi di Universitas Murdoch, Perth. Pandangan semacam ini telah meresap ke arus utama politik Australia yang digaungkan dan diperkuat oleh tokoh-tokoh publik, seperti Senator Australia Fraser Anning. Tahun lalu, Fraser sempat menyebut istilah ‘solusi akhir’ dalam seruan untuk membatasi imigrasi Muslim.

Briskey menyatakan, bahwa pesan semacam itu diartikan sebagai tanda layaknya lampu hijau bagi orang-orang yang mungkin tertarik pada narasi sentimen terhadap Islam semacam ini. Menurutnya, hal seperti ini akhirnya mendorong fitnah lebih lanjut terhadap umat Islam di dunia, dan secara ekstrem dengan kekerasan.

Christchurch
Foto: Twitter/Matthew Keys Live

4. Sosok Brenton Tarrant

Dilansir dari CNN, Anna Burns-Francis, wartawan TVNZ melaporkan, seorang saksi di tempat kejadian menggambarkan Brenton sebagai pria kulit putih berusia 30-an atau 40-an tahun dan mengenakan seragam. Sementara pihak kepolisian Selandia Baru menyebut Brenton berusia 28 tahun dan dipastikan berkewarganegaraan Australia yang keluarganya merupakan campuran keturunan Inggris, Irlandia, dan Skotlandia.

Brenton dikabarkan tidak melanjutkan studi hingga perguruan tinggi, karena ia merasa semua yang ditawarkan di kampus tidak mampu menarik minatnya. Artinya, Brenton beranggapan bahwa pendidikan bukanlah fokus utamanya.

Christchurch
Foto: Twitter/Matthew Keys Live

5. Kepolisian Selandia Baru telah menahan Brenton dan tiga orang pelaku lainnya

Sejauh ini, pihak kepolisian Selandia Baru telah menangkap empat orang terkait serangan terhadap dua masjid di Kota Christchurch tersebut. Komisaris Polisi Selandia Baru, Mike Bush mengatakan pelaku yang ditahan adalah tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan. Polisi tidak menutup kemungkinan masih ada orang lain yang turut terlibat dalam aksi penyerangan yang terjadi usai ibadah salat Jumat tersebut.

Meski demikian, pihak kepolisian Selandia Baru belum merinci bagaimana keterkaitan empat tersangka itu dengan aksi penyerangan di Christchurch. Berdasarkan informasi dari pejabat di kepolisian, tak ada satu pun dari mereka yang ada dalam daftar pantauan terkait tindakan terorisme.

Kabarnya, polisi Christchurch menangkap para pelaku dengan cara menghentikan kendaraan mereka. Selain membawa beberapa senjata api, Mike Bush juga mengatakan para penyerang turut menggunakan alat peledak terimprovisasi atau Improvised Explosive Devices/IED yang terpasang pada sejumlah kendaraan mereka.

Christchurch
Foto: News Strait Times

6. Aksi terorisme yang terencana

Dilansir dari Press Associated, Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru menegaskan bahwa apa yang dilakukan pelaku penembakan merupakan aksi terorisme brutal yang sangat terencana dengan baik. Ini sekaligus meralat ucapan dari Komisaris Polisi Selandia Baru, Mike Bush yang belum menyatakan aksi ini sebagai tindakan terorisme.

Tercatat, jumlah korban tewas dalam serangan tak berperikemanusiaan itu sebanyak 49 orang. Aksi penembakan itu terjadi di Masjid Al Noor yang berlokasi di Deans Ave dekat Hagley Oval, pusat Kota Christchurch dan masjid lain di Linwood Ave, pinggiran Kota Christchurch, usai salat Jumat sekitar pukul 13.40 waktu setempat. Mike Bush mengatakan, korban terbanyak berjumlah 41 orang tewas dalam serangan penembakan di masjid Deans Avenue dan sisanya di masjid Linwood.

Post your comments on Facebook