Selain makan dan minum, tidur adalah rutinitas yang wajib dijalani oleh tubuh. Secara ilmiah, tidur telah diakui berfungsi untuk mengembalikan metabolisme tubuh setelah beraktivitas, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menyeimbangkan tingkat hormon, menjaga tekanan darah, membersihkan racun dari tubuh dan masih banyak lagi lainnya. Pertanyaannya kemudian adalah, tidur seperti apa yang membawa manfaat-manfaat tersebut?

Baru-baru ini, seorang profesor ilmu syaraf dan psikologi dari University of California Berkeley, Matthew Walker, membongkar beberapa mitos tentang tidur dalam bukunya Why We Sleep: Unlocking the Power of Sleep and Dreams (2017). Dalam buku tersebut, Matthew berupaya meluruskan beberapa mitos tentang tidur yang kebanyakan berhubungan dengan tuntutan gaya hidup hingga termakan gimmick promosi obat dan suplemen kesehatan. Berikut adalah beberapa mitos tentang tidur yang dibongkar oleh Matthew dalam bukunya.

Mitos #1: Tidak Masalah Tidur Kurang dari Tujuh Jam Semalam

Dalam banyak penelitian yang Matthew kompilasi dari seluruh dunia, mayoritas respondennya membutuhkan tidur setidaknya tujuh sampai sembilan jam semalam. Meskipun, untuk alasan medis dan kelainan genetis, sebagian lainnya ada yang membutuhkan lebih bahkan kurang dari tujuh jam tidur, akan tetapi statistiknya sangat kecil. Tips yang diberikan Matthew untuk mengetahui durasi kebutuhan tidur anda adalah dengan tidur seperti biasa (lebih bagus dalam keadaan lelah) dan jangan setel alarm. Biarkan tubuh anda bangun secara alami pada waktunya.

Beauty | Health and Fitness
Foto: Ist

Di zaman yang serba instan ini, tidur seakan-akan menjadi ‘barang mewah’, khususnya bagi kaum profesional yang larut dalam pekerjaan. Menurut penelitian Matthew, apabila anda membutuhkan kopi atau suplemen lainnya di pagi hari untuk mencegah ngantuk, itu artinya anda kurang tidur. Atau, apabila anda mengantuk di pukul 9 pagi ketika baru mengerjakan beberapa dokumen atau tugas rumah, itu artinya anda juga kurang tidur. Matthew menyertakan tes pada beberapa responden penelitiannya yang tidur kurang dari tujuh jam semalam. Meskipun secara verbal (tes wawancara) mereka merasa normal, hasil tes tertulisnya menunjukkan bahwa mereka tidak dapat berkonsentrasi penuh atas suatu masalah.

Mitos #2: Balas Dendam Tidur di Akhir Pekan

Tidur panjang dan bangun siang di akhir pekan merupakan gaya hidup penduduk metropolitan. Kebanyakan dari mereka berpikiran bahwa tidak masalah lembur sepanjang minggu karena di akhir pekan tidurnya dapat terbayarkan. Padahal, menurut Matthew, tidur bukanlah soal ‘hutang-piutang’. Metabolisme tubuh tidak mengenal hal tersebut. Dari sumber lain, Matthew mengutip bahwa tidur yang baik bagi tubuh adalah yang terjaga konsistensinya. Memaksakan tidur panjang malah dapat menyebabkan tubuh lemas, pusing atau migrain yang kemudian membuat tubuh menjadi malas. Persis seperti yang terjadi ketika tubuh mengalami jetlag (berpindah zona waktu).

Beauty | Health and Fitness
Foto: Ist

Tips yang diberikan Matthew untuk hal ini adalah agar tidak memaksakan tidur kembali ketika terbangun. Berbaringlah dan pejamkan mata selama 5 hingga 10 menit dan apabila tidak bisa tertidur kembali, maka lebih baik bangun dan beraktivitas seperti biasa. Toh, akhir pekan bukan? Tidak masalah apabila di siang hari rasa ngantuk kembali menghinggap, untuk itu tidur sianglah yang juga dilakukan secara alami. Jangan bermalas-malasan dan memaksa pejamkan mata hingga puluhan menit agar tertidur.

Mitos #3: Bangun Pagi Untuk Olahraga Lebih Baik Dari Tidur

Olahraga di pagi hari memang menyehatkan. Olahraga di pagi hari juga membantu metabolisme tubuh berjalan secara alami hingga dapat membantu kenyamanan tidur di malam hari. Untuk itu, pastikan tidur anda cukup di malam hari sebelum berolahraga di pagi hari. Dalam penelitiannya, Matthew sangat tidak menyarankan untuk berolahraga di pagi hari dengan bekal tidur kurang dari lima jam semalam. Hasil yang optimal dari olahraga di pagi hari hanya bisa didapatkan apabila tubuh berolahraga dalam kondisinya yang paling fit, artinya cukup tidur.

Beauty | Health and Fitness
Foto: Ist

Secara ilmiah, Matthew menjelaskan bahwa tubuh memerlukan tidur untuk memulihkan metabolisme tubuh setelah beraktivitas (termasuk olahraga). Artinya, tubuh anda menjadi lebih kuat ketika bangun tidur. Sementara olahraga adalah proses ‘melukai’ tubuh dengan memacu metabolisme agar otot dan syaraf terlatih dan menjadi lebih kuat dan produktif. Sel otot dan syaraf juga memiliki jam istirahatnya. Apabila anda kurang tidur, maka sel otot dan syaraf anda juga kurang istirahat dan tidak akan bekerja secara optimal apabila dibebani dengan aktivitas olahraga.

Mitos #4: Mengorok Itu Biasa

Ya, mengorok itu biasa (normal) hanya ketika anda sedang tidur dalam keadaan flu berat. Secara medis, mengorok itu termasuk gangguan tidur. Ketika diklasifikasikan sebagai gangguan, maka akan ada konsekuensi atau efek sampingnya. Mengorok disebabkan oleh terhambatnya aliran udara dalam sistem pernafasan yang dalam jangka menengah hingga panjang dapat menyebabkan gangguan jantung, syaraf dan organ lainnya.

Beauty | Health and Fitness
Foto: Ist

Berobatlah apabila anda mengorok secara konsisten setiap malamnya. Pengobatan dan terapi mengorok sudah umum ditemukan di berbagai klinik di dunia. Dalam rentang waktu penelitian Matthew, banyak respondennya yang merasakan tidurnya lebih berkualitas setelah tidak mengorok lagi. Selain itu, mengorok juga mengganggu rekan tidur anda atau bahkan tetangga apabila terlampau berisik. Menemui dokter adalah solusi terbaik untuk menuntaskan masalah mengorok.

Mitos #5: Obat Tidur Sangat Membantu

Bagi penderita insomnia atau sulit tidur, obat tidur seringkali menjadi pilihan terbaik sebagai solusinya. Padahal, obat tidur memberikan efek bius, bukan tidur alami. Dengan kata lain, terbius dan tertidur merupakan dua hal yang berbeda. Dalam penelitiannya, Matthew mengacu pada beberapa penelitian lain mengenai otak. Gelombang otak yang berlangsung pada responden yang terbius dan tertidur sangatlah berbeda. Dengan kata lain, penggunaan obat tidur membutuhkan pantauan dokter dan tidak disarankan untuk membeli sembarang obat tidur.

Beauty | Health and Fitness
Foto: Ist

Selain itu, terdapat zat yang cukup berbahaya dalam obat tidur apabila digunakan tanpa arahan dokter. Zat tersebut bernama zolpidem yang umum terdapat pada banyak jenis obat tidur. Apabila digunakan secara berlebihan, zat tersebut dapat mengganggu kerja sel-sel otak yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan ingatan. Ditambah, penderita insomnia yang mengalami ketergantungan pada obat tidur akan memiliki efek yang sama dengan pecandu narkoba seperti gelisah, menggigil dan emosi yang dalam bahasa kesehariannya disebut sakau.

Post your comments on Facebook