Kekerasan pada anak merupakan tindak kekerasan yang terbagi pada empat macam yakni tindak kekerasan yang diterima secara fisik, seksual, penganiayaan emosional/efek psikologis dan pengabaian/penelantaran terhadap anak. Sebagian besar kekerasan terhadap anak ini terjadi di sekitar lingkungannya berinteraksi bersama orang-orang terdekat, seperti dalam rumah, lingkungan dan sekolah.

Baru-baru ini beredar berita di layar televisi bagaimana seorang balita tewas secara menggenaskan di tangan ibu kandungnya sendiri. Kekerasan fisik yang diterima tubuh anak kecil tersebut tidak mampu ia tanggung, sehingga mengakibatkan pada situasi yang paling membahayakan, yakni kematian.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Wanita.me berikut ini akan memaparkan bagaimana empat macam tindak kekerasan pada anak yang dapat membahayakan jiwanya, serta tindakan apa akibat yang diterima anak dalam kondisi tersebut.

Tindak kekerasan secara fisik. Agresi fisik yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak seperti memukul, meninju, menendang, mendorong, menampar, membakar, membuat memar, menarik telinga atau rambut, menusuk, membuat tersedak atau menguncangkan tubuh anak termasuk dalam tindakan kekerasan yang membahayakan jiwa anak. Karena tindakan tersebut bisa menimbulkan akibat seperti pembengkakan pada otak, cedera difus aksonal, kekurangan oksigen, muntah, lesu, kejang, penegangan ubun-ubun dan tekanan intrakranial.

Sebagian besar hukum di berbagai negara-negara di dunia sudah mengatur, bahwa tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan jiwa seseorang termasuk anak walaupun dengan alasan disiplin adalah termasuk dalam pelanggaran hukum dengan berbagai variasi hukumannya.

Tindak kekerasan secara seksual. Bentuk kekerasan seksual terhadap anak seperti menyuruh anak melakukan aktivitas seksual, memperlihatkan alat kelamin pada anak, melakukan pembiaran anak menonton aksi pornografi melalui tayangan, kontak secara seksual dengan anak dalam makna yang sebenarnya atau memperalat anak untuk memproduksi tayangan pornografi seperti kasus yang pernah viral di Indonesia beberapa waktu lalu.

Tahukah Anda bagaimana dampak jangka panjangnya terhadap anak atas tindakan kekerasan seksual ini pada anak? Dalam banyak jurnal kesehatan jiwa dikatakan, anak korban tindak kekerasan seksual akan mengalami gangguan secara kejiwaan seperti depresi, dorongan kuat untuk melakukan aksi bunuh diri, gangguan identitas disosiatif, cenderung melampiaskannya kembali kepada orang lain setelah ia dewasa. Yang menyulitkan pihak hukum ‘mengendus’ telah terjadi tindak kekerasan seksual pada anak ialah, menurut data dari berbagai sumber mengatakan bahwa pelaku kekerasan tersebut 60% berasal dari pihak keluarga dan orang terdekat korban. Sehingga hal ini sedikit mempersulit anak mendapatkan perlindungan hukum dari pelakunya.

Tindak kekerasan secara emosional/psikologis. Sekilas lalu, kekerasan emosional masih dianggap hal yang ‘wajar’ dan ‘lumrah’ karena tidak secara langsung berimbas pada fisik anak. Namun tindakan seperti memanggil nama anak dengan ejekan, merusak mainannya, menyiksa hewan peliharaannya, memberikan kritikan yang tidak membangun tepatnya menjatuhkan mentalnya, memutuskan komunikasi dan pelabelan sehari-hari yang cenderung menghina anak adalah bagian tindakan kekerasan yang memberikan efek kerusakan psikologis kepada anak. Akibatnya, anak akan mengalami gangguan kasih sayang misalnya ia meng-internalisasi kembali kata-kata kasar kepada pelaku dan paling parahnya ia akan menjadi anak yang pasif.

Tindak kekerasan secara penelantaran. Anak yang menjadi korban penelantaran merupakan tindakan orangtua yang tidak bertanggung jawab terhadap kebutuhan sandang, papan dan pangan anak secara layak. Misalnya, tidak menyediakan makanan, pakaian, tidak memberikan pengasuhan atau membiarkan anak dalam kondisi sakit tanpa pengobatan sama sekali.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Tindak kekerasan pada anak merupakan fenomena yang kompleks, dimana terkadang norma-norma masyarakat tentang aturan kedisiplinan masih sulit dipisahkan dengan akibat yang membahayakan jiwa anak.

Di Amerika Serikat, setiap bulan April sudah diperingati sebagai bulan Pencegahan Tindakan Kekerasan Terhadap Anak yang sudah dimulai sejak tahun 1983. Hal ini masih diteruskan oleh Presiden Amerika selanjutnya, termasuk Presiden Barrack Obama. Sebagai pengingat dan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat di Amerika khususnya dan masyarakat dunia umumnya, bahwa seorang anak ‘pun mempunyai hak asasi untuk merdeka dan mendapatkan perlindungan hukum dari segala macam tindakan kekerasan yang dapat mengancam jiwanya.

Post your comments on Facebook