Selasa, 20 Maret 2018 google mengabadikan seorang maestro perfilman Indonesia dalam balutan google doodle-nya. Dialah Usmar Ismail, beliau mendapat gelar sebagai Bapak Perfilman Indonesia karena dedikasi dan karya yang sudah dihasilkan. Tidak hanya sebagai tonggak lahirnya film nasional tetapi juga penabur benih pertumbuhan perfilman dan teater di Indonesia.

culture | profile
Foto : ist

Usmar Ismail lahir pada tanggal 20 Maret 1921 di Bukittinggi. Dia pernah bersekolah HIS, MULO-B, AMS-A II Yogyakarta. Ia melanjutkan studi dengan memperoleh B.A. di bidang sinematografi dari Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat pada 1952. Bersama Asrul Sani, Usmar memprakarsai berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) tahun 1955 yang menjadi lembaga kesenian pertama di Jakarta. Jebolan ATNI ini antara lain Teguh Karya, Tatiek Malijati, Pietradjaja Burnama. Usmar Ismail pun mengorbitkan bintang, seperti Nurnaningsih, Mieke Wijaya, Suzanna, Widyawati.

Selama hidupnya, antara tahun 1950-1970, Usmar Ismail membuat 33 film layar lebar: 13 film drama, 9 film komedi atau satire, 7 film aksi dan 4 musical/entertainment. Namun, kabarnya ada satu film yang membuatnya tertekan dan sakit yaitu sebuah film yang berjudul Bali. Film ini bekerja sama dengan perfilman Italia tetapi sayanganya tidak berakhir seperti yang diinginkan.

culture | profile
Foto : ist

Ada beberapa film yang membuat nama Usmar semakin dikenal di dalam negeri juga di dunia internasional. Dari studio milik Usmar sendiri, Perfini, dia menghasilkan beberapa film klasik Indonesia seperti Pedjuang (1960) dan Enam Djam di Djogdja (1951). Film Pedjuang menjadi film pertama karya anak bangsa yang diputar di festival film internasional Moskwa ke-2 dan bercerita tentang kemerdekaan Indonesia dari Belanda.

Kepiawaian Usmar dalam menggarap film pernah diganjar Piala Citra, salah satunya Lewat Djam Malam. Film lainnya, Tamu Agung (1955) diganjar penghargaan Film Komedi Terbaik Festival Film Asia (FFA) di Hongkong. Pada catatan Sinematek Indonesia, tak sedikit apresiasi yang disandangkan kepada Usmar, dari penghargaan tertinggi di bidang kebudayaan Widjajakusuma 1962 dari Presiden Sukarno, sampai Warga Teladan 1975 dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

culture | profile
Foto : ist

Ada juga film Tiga Dara (1956) yang oleh google doodle dijadikan sketsa untuk memperingati ulang tahun sang maestro perfilman ini. Film ini menceritakan kisah lucu tentang lika liku kehidupan dan cinta tiga saudara perempuan. Banyak karya Usmar yang ditampilkan dalam komedi tetapi memiliki makna dalam pada perjuangan Indonesia. Sehingga pantasnya jika dia dianggap sebagai pelindung utama seni dan kekuatan utama di balik pembentukan National Academy of Theatre di Indonesia.

Post your comments on Facebook