Media sosial sangatlah unik. Banyak keuntungan yang didapatkan dengan mengombinasikan platform bermedia dan bersosialisasi; mulai dari berdagang, berkomunikasi dengan teman lama dan keluarga jauh, belajar melalui video tutorial secara online, bahkan hingga mengetahui berita dan gosip terkini. Ya, hidup sangatlah mudah di era media sosial.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Kontradiksi kemudahan-kemudahan tersebut adalah terjadinya overlap antara yang nyata dan yang virtual. Sebagai studi kasus, coba pikirkan baik-baik, sepenting apakah fungsi tongsis (selfie-stick) ketika anda travelling? Bukankah perjalanan anda sama berartinya baik dengan maupun tanpa tongsis? Bukankah ritual ber-selfie dan mengunggah foto ke media sosial justru menyita waktu dan mengganggu aktivitas anda dalam berwisata? Pengalaman berwisata yang nyata menjadi terasa tidak lengkap apabila tidak disertai dengan pengalaman virtualnya. Itu baru contoh kasus pada travelling, masih banyak lagi contoh lainnya.

Emma M. Seppala, Ph.D., seorang peneliti di Center for Compassion and Altruism Research and Education di Stanford University, menyatakan bahwa di era sekarang ini, mereka yang bermedia sosial kebanyakan lebih memikirkan bagaimana orang lain menerima pengalamannya daripada bagaimana diri mereka sendiri memaknai pengalamannya. Emma menambahkan, bahkan dapat dikatakan hasrat narsis di media sosial mengalahkan hasrat seks. Dalam studinya, Emma merangkum tiga hal negatif yang dilakukan media sosial:

Mengambil Momen Bermakna

Apa yang anda lakukan di media sosial? Anda berbagi momen, mulai dari yang bahagia, lucu hingga sedih. Coba saja cek, semua platform media sosial memiliki menu share. Padahal, seharusnya makna dari suatu momen adalah hal yang sangat privat, atau dengan kata lain adalah milik anda sendiri. Sekarang ini, ketika anda berbagi, anda sebenarnya mengharapkan timbal balik, yaitu komentar (comment) atau setidaknya reaksi (emoji like, love dan lainnya). Bahkan tanpa anda sadari, anda telah mengharapkan itu semua jauh sebelum anda mengunggah sesuatu di media sosial.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Emma menyimpulkan, masih untuk studi kasus travelling, begitu anda mengeluarkan tongsis untuk ber-selfie-ria, maka anda sebenarnya sedang menekan tombol pause pada momen yang sedang berlangsung. Hidup anda pada saat itu anda dedikasikan bagi dunia virtual beserta ekspektasinya. Meskipun, bermedia sosial sebenarnya dapat menjadi hal yang sangat produktif apabila anda menggunakannya dengan tujuan yang jelas dan menyaring segala ekspektasi yang anda harapkan dari media sosial.

Media Sosial adalah Zat Adiktif Virtual

Pusat atau sensor kesenangan (pleasure) yang terdapat pada otak merespon positif pada hal-hal baru (novelty). Hal tersebutlah yang selalu tersedia dan ditawarkan oleh media sosial, yaitu interaksi yang konstan seperti post baru, foto-foto baru dan pertemanan baru. Tanpa anda sadari, hal-hal tersebut membuat anda berpikir ulang mengenai banyak hal seperti penampilan, barang-barang yang anda miliki, respon orang-orang di jaringan media sosial anda bahkan hingga keberpihakan politik. Berpikir ulang mengenai hal-hal tersebut, apabila terjadi secara berlebihan mengindikasikan anda menderita kecemasan dan depresi. Tahukah anda zat apa yang menyebabkan penyakit psikis tersebut? Ya, zat adiktif.

Studi lebih lanjut mengenai hal tersebut masih dilakukan di banyak institusi seperti Harvard dan Stanford University. Para peneliti di universitas tersebut menemukan pada beberapa responden bahwa gejala ketagihan media sosial memang terjadi, akan tetapi apakah rasa cemas dan depresi dalam hidupnya murni disebabkan media sosial masih harus diteliti lebih lanjut. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa sensasi ketagihan zat adiktif seperti rokok dan alkohol sebenarnya tidak berbeda jauh dengan sensasi ketagihan media sosial.

Membahayakan Hubungan Sosial

Emma menemukan beberapa studi komunikasi yang menyimpulkan bahwa kehadiran atau bunyi telepon genggam di antara dua orang atau lebih yang sedang berkomunikasi dapat mengganggu efektivitas koneksi nyata yang sedang berlangsung. Contoh paling sederhana adalah ketika atasan anda menegur anda dalam sebuah pertemuan karena anda sibuk mengotak-atik handphone. Belum lagi contoh lain mengenai sepasang kekasih yang asik bermain handphone padahal mereka sedang dalam makan malam romantis. Terdapat juga studi lain yang membahas mengenai micro-cheating, tentang bagaimana perselingkuhan di era digital seringkali dimulai di media sosial.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Sebagai makhluk sosial, fisik kita dibangun untuk memahami sesuatu berdasarkan apapun yang dapat dijangkau oleh indera penglihatan, penciuman, pendengaran dan peraba. Dalam hal komunikasi, kita terlatih untuk bereaksi atas tangkapan indera-indera tersebut. Menurut Emma, maka tidak heran apabila sekarang ini banyak miskomunikasi terjadi di media sosial, seperti berdebat atas berita hoax (termasuk menyebarkannya tanpa memeriksa sumber atau kroscek pada yang ahli). Dengan kata lain, media sosial mendegradasi atau ‘meremeh-temehkan’ indera-indera yang kita miliki karena segala sesuatunya dimediasi oleh simbol (share, comment, like).

Post your comments on Facebook