Pada awal bulan ini, tepatnya tanggal 2 April 2018, dunia kehilangan salah seorang wanita pejuang hak asasi manusia, Winnie Mandela. Ia berpulang di usia 81 tahun di Johannesburg, Afrika Selatan, akibat komplikasi penyakit yang dideritanya. Winnie merupakan aktivis anti-aparteid, sebuah kebijakan rasis yang melarang warga negara berkulit hitam dan putih untuk berinteraksi dalam banyak hal di Afrika Selatan. Ia juga merupakan mantan istri Nelson Mandela. Para pendukung politik dan aktivisme Winnie menjulukinya sebagai “Mother of the Nation”.

Pada tanggal 14 April 2018, jenazah Winnie dimakamkan di Fourways, sebuah distrik di utara Johannesburg. Sebelum dimakamkan, pelayanan pemakaman dilaksanakan di Orlando Stadium, Soweto. Sayangnya, berbagai polemik mewarnai wafatnya Winnie. Polemik yang terjadi tentu saja berkaitan dengan situasi politik Afrika Selatan yang baru saja kehilangan presidennya karena mengundurkan diri, yaitu Jacob Zuma. Beberapa tokoh politik yang diberikan kesempatan mengenang Winnie memanfaatkan podium pelayanan untuk saling mengkritik.

Culture | Profile
Foto: Ist

Winnie terlahir dengan nama Nomzamo Winifred Zanyiwe Madikizela pada tahun 1936 di desa Mbongweni yang kini menjadi bagian dari Provinsi Eastern Cape. Ia adalah anak keempat dari delapan bersaudara. Kedua orang tuanya, Columbus dan Gertrude, berprofesi sebagai guru. Keluarganya tercerai-berai pada saat sang ibu meninggal ketika Winnie berumur 9 tahun. Saudara-saudara kandungnya tersebar tinggal bersama beberapa paman dan bibi. Meskipun terdapat banyak larangan bagi warga kulit hitam di era aparteid, Winnie cukup sukses di dunia pendidikan. Ia kemudian mengawali karirnya sebagai pekerja sosial di Rumah Sakit Baragwanath di Soweto.

Pada tahun 1957, Winnie bertemu Nelson Mandela yang pada saat itu berprofesi sebagai pengacara dan dikenal luas sebagai aktivis anti-aparteid. Mereka menikah pada tahun 1957 dan mendapatkan dua putri, Zenani dan Zindziwa. Nelson Mandela dipenjara pada tahun 1963 dan mengenyam kebebasan pada tahun 1990. Kisah-kisah romantisme dan perjuangan mereka dalam melawan rezim aparteid telah diangkat dalam berbagai judul film. Salah satunya yang terbaru adalah Mandela: Long Walk to Freedom (2013), di mana Winnie diperankan oleh aktris Naomie Harris. Dalam beberapa kesempatan wawancara dengan media, Winnie mengungkapkan bahwa film tersebut merekam kisahnya dengan sangat apik.

Semasa hidupnya sebagai aktivis di tahun 1960 hingga bebasnya Nelson Mandela, Winnie sangat vokal dan tidak kenal takut. Ia bahkan sering mengalami kekerasan dari aparat, baik di lapangan maupun di dalam penjara. Salah satu dampak buruk bagi Winnie dari pengalaman tersebut adalah kecanduan obat penghilang rasa nyeri dan alkohol. Pada tahun 1969, Winnie mulai dikenal dunia Barat ketika ditahan selama 18 bulan di Penjara Pusat Pretoria. Di sana, Winnie melakukan berbagai aktivitas sosial seperti mengoranisir pembangunan klinik lokal hingga mengkampanyekan kesetaraan hak warga negara.

Culture | Profile
Foto: Ist

Setelah rezim aparteid runtuh, Afrika Selatan menempuh masa transisi menuju demokrasi dengan negara yang multi-ras. Kompleksitas dunia politik mengundang kontroversi masa lalu Winnie sebagai aktivis yang melawan pemerintah. Banyak tuduhan dilayangkan kepadanya, mulai dari pembunuhan, penipuan hingga korupsi. Pada tahun 1996, ia bahkan bercerai dengan Nelson Mandela. Winnie pernah menjadi Wakil Menteri Seni, Budaya, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada tahun 1994-1996. Ia juga pernah menjadi anggota parlemen pada tahun 1994-2003 hingga akhirnya mengundurkan diri karena terlibat skandal penipuan.

Terlepas dari segala kontroversinya, kisah hidup Winnie selama masa rezim aparteid telah menginspirasi dunia. Bahkan setelah perceraiannya dengan orang nomor satu di Afrika Selatan, Winnie tetap tidak kehilangan pendukung, khususnya bagi kaum miskin di pinggiran kota yang melihat Winnie sebagai suara bagi mereka. Winnie tetap dapat terus berkiprah di dunia politik. Pada tahun 2009, Winnie kembali berpolitik dan berhasil menduduki kursi parlemen hingga akhir hayatnya.

Post your comments on Facebook